Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Saturday, October 15, 2016
Senjakala Ahok?
Koran Harian Terbit, 14 Oktober 2016
Oleh:
Arif Nurul ImamAnalis
Politik POINT Indonesia
Sebagaimana dirilis oleh berbagai lembaga
survey, elektabilitas Basuki Tjahya Purnama atau akrap disapa Ahok terus
merosot. Padahal, rentang waktu pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada)
masih sekitar empat bulan lagi. Ibarat perjalanan, masih harus menempuh jalan
panjang dan tidak menutup kemungkinan banyak lubang jarum yang bisa membuat
jatuh terperosok. Pertanyaannya, apakah Pilkada kali ini bakal menjadi senjakala Ahok?
Sebagai petahana, sesungguhnya memiliki ruang
lebar untuk melakukan aksi nyata melalui kebijakan dan program yang bukan saja
memberi faedah bagi masyarakat Jakarta, tapi juga akan memberi sentimen positif
yang bakal menambah kepercayaan publik sekaligus mendongkrak elektabilitas.
Namun kenyataannya, Ahok justru melakukan tindakan yang acap kali melawan arus
publik sebagaimana kita saksikan.
Saturday, September 3, 2016
Destinasi “Ngehits” Wisata Selfie Kalibiru Kulonprogo
Salah
satu destinasi wisata alam di Yogyakarta yang sekarang lagi ngehits adalah
Kalibiru. Tempat wisata ini terletak di Jogja Barat, tepatnya di Kecamatan
Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Menyuguhkan panorama alam yang natural, sekaligus
menyediakan tempat selfie yang banyak diburu wisatawan untuk “narsis”.
Meski
sudah tenar belakangan, namun saya baru bisa menyempatkan berkunjung lagi, pada
bulan puasa kemarin untuk mengantarkan teman dari Jakarta. Sebelumnya saya
pernah datang ketempat ini secara intensif, sekitar tahun 2006 sekitar satu bulan
untuk melakukan observasi.
Saat
itu, membantu teman Panggih Widodo yang sekarang menjadi komisioner KPUD
Kulonprogo, menjadi konsultan sosial ekonomi Waduk Sermo yang dibiayai oleh salah
satu Kementerian. Tugasnya melakukan observasi kemudian menyusun rekomendasi terkait
pengembangan waduk sermo, terutama dari segi sosial masyarakat agar dapat
mencegah laju sedimentasi. Dalam observasi itu, Kalibiru memang telah dilihat
sebagai potensi wisata yang bisa dikembangkan berbasis kemasyarakatan.
Thursday, September 1, 2016
Mengapa PDIP Jakarta Bergejolak?
TSKita
Selasa, 30 Agu 2016 - 16:26:23 WIB
Arif Nurul Imam (Peneliti Politik POINT Indonesia dan aktif dalam gerakan pro-demokrasi), TEROPONGSENAYAN
Sumber foto : Istimewa
Arif Nurul Imam
Suhu politik jelang Pilkada DKI Jakarta kian panas. Hal ini setidaknya dapat kita lihat, kemarin, 29 Agustus, sebagaimana diwartakan oleh media terjadi peristiwa gejolak politik menarik di tubuh internal PDIP.
Bambang Dwi Hartono(DH) selaku Plt Ketua DPD PDIP Jakarta mendadak dicopot. Posisi sebagai Plt Ketua DPD PDIP Jakarta diganti oleh Adi Wijaya yang sebelumnya menjabat sebagai bendahara DPD Jakarta.
Tentu pergantian ini tidak bisa dibaca sekadar rotasi alamiah organisasi, melainkan erat kaitannya dengan situasi jelang Pilkada Jakarta yang kian dekat dan makin memanas. Mantan walikota Surabaya tersebut memang selama ini gencar menyatakan secara terbuka menolak pencalonan Bambang T Purnama atau akrab disapa Ahok maju lewat PDIP. Fungsionaris DPP PDIP ini bahkan mendukung kader-kader PDIP ditingkat ranting atau kecamatan untuk secara terang-terangan menolak Ahok.
Wednesday, August 24, 2016
Relevankah Kota Satelit Samigaluh?
Oleh: Arif Nurul Imam
Beberapa
waktu yang lalu, saya sempat ngobrol dengan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo
yang sekarang telah demisioner dari jabatannya sejak 24 Agustus 2016. Dalam
percakapan tersebut, politisi PDIP yang siap maju lagi dalam Pilkada 2017 ini sempat
melontarkan mengenai gagasan atau proyeksi membangun Kota Satelit Samigaluh.
Namun
karena pertemuan yang relatif singkat sudah tentu tak bisa diskusi panjang dan
mendalam. Dokter spesialis kandungan tersebut kemudian mengajak saya diskusi di
kemudian hari, namun hingga kini belum kesampain. Sebagai warga Samigaluh dan intens terhadap isu-isu kebijakan publik, melewati
tulisan ringkas ini, saya ingin menyampaikan pandangan terkait rencana tersebut.
Tuesday, June 21, 2016
Menakar Peluang Partai Perindo dalam Pemilu 2019
Sejak
reformasi, di setiap jelang Pemilu hampir dipastikan muncul berbagai partai
politik baru yang mengusung kepentingan, platform, serta ideologi yang beragam.
Pada Pemilu pertama pasca Orde Baru; bahkan mencatatkan rekor dengan jumlah peserta
sebanyak 48 partai politik. Meski tidak semua lolos verifikasi serta gagal
mendudukkan kader di kursi legislatif, namun kehadiran partai politik baru bisa dibaca bahwa praktek kehidupan demokrasi
kita tumbuh subur sejalan dengan semangat dan cita-cita dalam membangun
kehidupan demokrasi di Tanah Air.
Meski
rentang pelaksanaan Pemilu masih relatif lama, namun hari ini publik sudah
tidak asing lagi dengan parpol baru; Partai Perindo besutan pengusaha ‘raja
media’ Harry Tanoesodibyo. Dengan segala kekuatan politiknya, sebagai pendatang
baru dalam percaturan politik Indonesia, nampaknya tak bisa dianggap dengan sebelah
mata.
Dengan
topangan media, terutama serangan udara melewati televisi, laju popularitas
partai yang dideklarasikan pada 7 Februari 2015 tesebut terus meroket. Hal ini
tentu menjadi salah satu modal politik
yang akan menjadi jalan mulus untuk lolos verifikasi dan sukses di Pemilu.
Artinya, partai yang mengusung tagline
“Indonesia Sejahtera” ini, mempunyai peluang besar, bukan saja lolos mengikuti
Pemilu, namun juga potensial memperoleh dukungan suara besar.
Catatan Dinamika Politik Jelang Pilkada Kulonprogo
Perhelatan
Pemilihan Kepala Daerah(Pilkada) secara serentak akan kembali lagi digelar pada
tahun 2017. Demikian pula, kabupaten tanah kelahiran saya, kabupaten
Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak ada perbedaan yang mencolok dengan
dinamika politik di daerah lain. Makin dekat rentang waktu pelaksanaan Pilkada
praktis tensi dan eskalasi politik dipastikan akan meningkat yang akan diwarnai
aneka rupa manuver para elit politik.
Meski
kerap diluar Kulonprogo, namun sebagai orang yang lahir dan besar serta ber-KTP
Kulonprogo, sudah pasti, memiliki perhatian khusus mengenai perkembangan politik
lokal. Apalagi beberapa kawan yang bergiat di politik lokal, kerap mengajak
diskusi melewati sosial media maupun melalui sambungan telepon seluler membicarakan mengenai perkembangan politik kekinian.
Tuesday, May 17, 2016
Menjaga Idealisme, Jangan Pamrih
KERELAWANAN POLITIK
ANTHONY LEE/A PONCO ANGGORO/ANDY RIZA HIDAYAT
Kerelawanan politik dianggap memberi harapan karena seolah mengembalikan demokrasi pada sub- tansinya, yakni pemerintahan "dari, oleh, dan untuk" rakyat. Kerelawanan juga menandakan ada kesadar- an, rasa berdaya, dan ketulusan berbuat sesuatu. Namun, bagaimana jika relawan politik diganjar jabatan seusai menuntaskan tugas kerelawanannya?
Seorang kenalan, warga negara Amerika Serikat yang mengamati fenomena kerelawanan politik di Indonesia, pernah bercerita, di negaranya, menjadi hal wajar jika relawan politik yang berjuang sejak awal diajak bergabung dalam pemerintahan oleh kandidat yang menang. Sebab, selama masa pemilihan, kandidat dan relawan menjadi saling kenal dan terbangun rasa percaya.
Los Angeles Times pada 24 Februari 2013 menurunkan artikel "Changing of the Young Guard at the Obama White House", soal relawan Obama yang memutuskan mundur dari posisinya di Gedung Putih. Hal yang menarik dari artikel itu, sang relawan, Tommy Vietor (35), mengawali kariernya sebagai relawan sejak lulus perguruan tinggi, saat Obama masih mencalonkan diri sebagai senator. Ia sempat menjadi sopir mobil pers tim kampanye Obama, lalu kemudian menduduki posisi sebagai Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih 2011-2013.
Apakah hal itu juga terjadi di Indonesia? Boni Hargens, akademisi yang juga mantan relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sempat menerima berbagai kritik di media sosial saat ia ditunjuk sebagai Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara awal tahun 2016. Penunjukan itu, oleh sebagian orang, dianggap sebagai balas jasa atas peran Boni dalam mendukung Jokowi-Kalla pada Pemilihan Presiden 2014.
"Saya kira di media sosial ada (kritik), tetapi tidak banyak karena mereka melihat peran institusi media itu bukan perusa- haan profit. Kalau saya di Pertamina, baru orientasi orang berbeda," kata Boni.
Boni mengaku menerima penunjukan itu karena posisi Antara strategis sebagai wadah komunikasi negara. Menurut dia, tidak ada persoalan jika ada relawan bergabung dalam pemerintahan atau duduk dalam posisi-posisi di perusahaan negara sepanjang tidak didasari ambisi untuk mendapat posisi tertentu.
Arif Nurul Imam, Wakil Sekretaris Jenderal Pergerakan Indonesia yang terlibat sebagai relawan Faisal Basri-Biem Benjamin pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, menuturkan, dalam gerakan kerelawanan selalu bisa ditemui orang-orang yang memang tulus membantu karena punya idealisme, tetapi juga ada yang berharap pamrih.
Dia menilai penempatan relawan-relawan politik dalam sebuah posisi tertentu jika calon yang didorong itu menang harus didasarkan pada kemampuan. "Tidak boleh relawan itu sejak awal punya target ingin jadi ini atau itu," tutur Arif.
Sunday, January 3, 2016
Pilkada Serentak, Peran PR Belum Menyentak
Majalah PR-Indonesia, Edisi 9 2015
Laporan Utama
Laporan Utama
Pilkada Serentak, Peran PR
Belum Menyentak
Meski kue public relations
(PR) yang beredar di ranah Pilkada Serentak cukup menggiurkan, namun belum
banyak pelaku industri PR yang menikmatinya. Mengapa?
Bagi para praktisi public
relations (PR), era Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak awalnya
diproyeksikan bakal membawa berkah melimpah. Jauh sebelum bola Pilkada Serentak
2015 bergulir, banyak tokoh PR yang memroyeksikan besarnya kue PR yang beredar
di perhelatan akbar pertama dalam sejarah Indonesia ini.
Direktur Socio Komunikasi
Djaka Winarso, misalnya, memperkirakan kue yang beredar dalam gelaran Pilkada
Serentak cukup fantastis. Jika diasumsikan masing-masing kandidat menghabiskan
biaya kampanye Rp 20 miliar, maka untuk Pilkada serentak tahun 2015 di 269
daerah yang melibatkan lebih dari 700 pasangan calon akan mencapai Rp 14
triliun. “Jadi memang kuenya besar banget,” simpul Djaka dalam sebuah
perbincangan dengan PR Indonesia, April 2015.
Thursday, September 17, 2015
Ketika Petahana Memilih "Berkeringat" di Jalur Perseorangan
Pilkada Serentak
Kompas Cetak,
Pemilihan kepala daerah serentak tahun 2015 ini
menjadi laboratorium demokrasi. Ada hal-hal tak biasa yang dijumpai pada
tahapan demi tahapan penyelenggaraan pilkada. Salah satunya, kemunculan
petahana yang menyeberang keluar dari "zona nyaman" partai politik.
Mengapa mereka memilih jalur berpeluh?
Kedua pilihan itu
masing-masing punya sisi positif dan negatif. Jika memilih partai
politik (parpol), para petahana tinggal memanfaatkan mesin partai yang
relatif stabil dari tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke
kelurahan/desa. Namun, tak mudah mendapat "perahu" dari parpol, bahkan
untuk para petahana sekali pun. Kendalanya mulai dari melobi petinggi
partai hingga perkara uang mahar yang kerap muncul dalam wacana di ranah
publik.
Hal itu berbanding terbalik dengan pasangan calon yang
melaju dari jalur perorangan. Boleh jadi mereka tak perlu lobi-lobi
elite untuk mendapat rekomendasi. Namun, calon harus berpeluh membangun
jaringan relawan dari awal, terutama untuk mengumpulkan syarat
pencalonan berupa dukungan masyarakat yang jumlahnya lumayan besar,
mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Jika calon sudah akrab
dengan organisasi kemasyarakatan, institusi itu pun bisa jadi mesin
politik.
Arif Nurul Imam, asisten politik Faisal Basri-ekonom dan
calon gubernur DKI Jakarta 2012-ingat betul bagaimana tim kampanye harus
bersusah payah di awal karena tak mudah mencari relawan pada awal-awal
masa pencalonan. Ini karena masyarakat merasa peluang menang calon
perorangan relatif kecil dibandingkan dengan calon dari parpol yang
memiliki mesin politik kuat.
"Tapi, begitu terekspos, relawan
datang, kok. Tapi, tetap harus dibangun dulu karena latar belakang
relawan macam-macam dan tidak semua terbiasa bekerja politik. Harus ada
adaptasi dan proses belajar," tutur Arif, Rabu (16/9), di Jakarta.
Para
calon juga harus begadang bersama-sama relawan untuk menyortir ratusan
ribu kartu tanda penduduk sehingga tak ada dukungan ganda yang
disetorkan ke Komisi Pemilihan Umum daerah. Walau tidak menang, Faisal
mampu menunjukkan dengan dukungan relawan, dia tidak berada di posisi
paling bawah dalam perolehan suara. Bersama Biem Benyamin-calon wakil
gubernur-Faisal bisa unggul atas salah satu pasangan calon yang diusung
partai besar.
"Kalau sekarang ada petahana yang menyeberang ke
jalur perorangan, ya, harus kita lihat dulu apa motifnya. Kalau karena
tertekan oleh partai pengusung yang campur tangan programnya atau karena
uang mahar, itu pertanda positif," kata Arif.
Wednesday, August 26, 2015
Pengkultus dan Pendukung Rasional Jokowi
Jokowi, presiden RI
ke-7 yang terpilih secara demokratis memang tidak semua pendukungnya
bercorak rasional, melainkan kombinasi antara pendukung rasional dan
pengkultus. Kombinasi inilah yang mampu menghantarkan di kursi Presiden,
sebab antara suara “preman pasar” dan suara profesor dalam
penghitungan memiliki bobot sama satu suara.
Jika menyimak sebelum dan sesudah terpilih sebagai presiden, sebagian pendukung Jokowi terbilang fanatik
sehingga apapun langkah Jokowi dianggap sebuah kebenaran dan yang
berseberangan dianggap salah besar. Gejala ini mirip pengkultusan
terhadap sosok Jokowi layaknya manusia setengah dewa yang tak memiliki
cela dan kekurangan. Padahal, selagi masih manusia, pasti memiliki
kekurangan dan kelebihan. Maklum, sebagian besar pendukung Jokowi adalah masyarakat kelas bawah sebagaimana dirilis oleh berbagai lembaga survey.



















