Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Showing posts with label Catatan Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Catatan Pribadi. Show all posts

Monday, March 9, 2020

Masih Adakah Tepo Seliro?


Oleh : Arif Nurul Imam
(Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting)

Tepo seliro atau tenggang rasa merupakan nasehat bijak yang berasal dari kearifan lokal Jawa. Dalam khazanah budaya Jawa, tepo saliro didefinisikan sebagai sikap individu untuk mengontrol pribadinya berdasarkan kesadaran diri. Wujud tepo saliro adalah sikap menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa melihat latar belakang atau identitasnya untuk saling menghormati dan tolong-menolong.

Meski berasal dari bahasa Jawa, namun ungkapan tepo seliro beberapa waktu lalu sempat mencuat secara massif serta menasional, terutama di media sosial pasca insiden Kauman, Yogyakarta. 

Sikap tepo seliro sejatinya bukan hanya monopoli suku Jawa. Ini karena sesungguhnya menjadi sikap sebagian besar suku-suku lain, bahkan juga merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Itu sebabnya, ajaran adiluhung ini mesti dirawat dan di tumbuhkembangkan di tengah kehidupan yang makin minim empati, tuna solidaritas dan maraknya superioritas dalam segala bentuk.

Menjunjung tinggi sikap tepo seliro tidak saja penting, melainkan mutlak diperlukan dalam menciptakan kehidupan yang harmoni, saling tolong menolong dan guyup-rukun, termasuk dalam dunia politik praktis. Hal tersebut lantaran tepo seliro selain berguna untuk memupuk solidaritas dan persatuan juga bermanfaat untuk mengurangi derajat polarisasi politik secara ekstrem.

Friday, June 22, 2018

Kekancan Saklawase



Catatan Reuni SMP 2 Sentolo


Pada 13 Juni kemarin, kami mengadakan reuni alumni SMP 2 Sentolo yg kini berganti nama SMP 1 Samigaluh di Kebun Krisan, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo. Meski hanya satu angkatan 96 dan hanya dihadiri puluhan orang, namun pertemuan awal ini bagi saya  bisa dikatakan modal awal untuk melangkah maju.

Maju dalam arti menjaga dan merawat perkawanan agar kekancan saklawase bisa terjaga dan berkesinambungan. Memang hanya puluhan orang yang hadir, dari 160 orang, namun sebagai acara awal, kegiatan ini bisa disebut sukses. Selain itu, acara kecil ini juga dihadiri oleh dua guru, yaitu Pak Mujiharjo yang kini telah pensiun, dan Bu Parjilah.

Reuni menjadi momentum berharga bukan saja mempertemukan kawan yang lama tak berjumpa, melainkan memiliki beberapa fungsi. Setidaknya, ada tiga fungsi yang bisa di peroleh dari acara kumpul-kumpul tersebut.

Pertama, ngumpulke balung pisah. Di tengah kepadatan dan kesibukan masing-masing, mengumpulkan kawan yang lama tak jumpa dan berbeda aktivitas tentu tak mudah. Saya melihat ada banyak kawan yang berjumpa lagi setelah lulus, termasuk saya sendiri. Artinya, ;lebih dua dasawarsa tak jumpa hingga momentum reuni tersebut.

Karena saking lamanya, tentu ada banyak perubahan. Baik secara fisik, aktivitas, maupun cara berpikir. Terjadi metamorphosis sehingga memiliki beragam kesibukan dan identitas yang saya yakin akan bisa bersinergi untuk saling membesarkan.

Kedua, merajut modal social. Modal social adalah modal yang kadang tanpa disadari kerap kita abaikan. Padahal terdapat modal social yang sesungguhnya sangat bermanfaat. Merajut perkawanan yang lama tak jumpa adalah bagian kerja merajut modal social.

Sosiolog ekonomi asal Jepang Francis Fukuyama, misalnya membuat tesis bahwa modal social bisa di konversi menjadi modal ekonomi.  Artinya, di kala kita memiliki modal social sesungguhnya tercipta untuk menciptakan mesin uang alais pendapatan.

Tentu ini perlu formula, seraya  membaca dan menciptakan peluang dari modal social yang tersedia. Wujudnya bisa beragam, misalnya, jika ada yang memproduk barang, setidaknya bisa memanfaatkan jaringan untuk menjadi konsumen, bahkan marketingnya.

Tentu ada banyak manfaat yang lain, namun yang pokok dan utama adalah menjaga perkawanan agar bisa kekancan saklawase.

Dalam forum ini juga menyepakati untuk menyusun kepanitian, agar ada yang mengelola kegiatan reuni tahun selanjutnya. Saudara Edi Sujarwo di beri tanggung jawab sebagai Ketua, Bu Camat atau Bu Prima di dapuk sebagai sekretaris dan seleb kenamaan mbak Ririeh di beri tanggung jawab sebagai bendahara. Ini tentu sekadar untuk memudahkan berkoordinasi bukan bersifat keorganisasian formal.

Dari percakapan di grup maupun secara langsung, ada banyak profesi dari kawan-kawan alumni, ada yang jadi guru, polisi, tentara, dokter, perajin tas., produsen jamu, seniman, kontraktor, peternak, sopir, dll. Ini tentu profesi yang beragam yang menjanjikan jika bisa di sinergikan. Entahlah



Gumaya Hotel Semarang, 22 Juni 2018

Saturday, May 13, 2017

Kelas Menengah


Sekitar lima tahun lalu, seraya menyusuri perjalanan pulang, saya bersama Bang Faisal Basri sempat diskusi mengenai fenomena lonjakan kelas menengah di Indonesia. Karena dia nyetir dan agak ngantuk maka minta saya untuk terus ajak ngobrol agar menghilangkan rasa kantuk.
Nah, meski lelah dan ngantuk, untuk membuka perdebatan saya lemparkan pertanyaan yg agak berat. Pertanyaannya, mengapa jumlah kelas menengah yg besar tak berkorelasi positif dengan kesadaran politik?.
Dari situ dia menjelaskan bahwa kelas menengah itu ada 2 macam, yakni kelas menengah yang hanya dilihat dari tingkat pendapatan saja, dan kelas menengah yang memiliki kesadaran ideologis. Dalam bahasa dia, kelas menengah ideologis ini disebut sebagai strata menengah karena bukan hanya memikirkan survival, melainkan juga perubahan.
Jadi, tak bisa gebyah-uyah atau pukul rata. Jangan berharap kelas menengah mesti memiliki visi perubahan, karena acapkali hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan kadang hanya menyisakan onggokan kebisingan :)
Selanjutnya, saya pun terlelap hingga tiba sampai tujuan. :)

SUMBER: Status Facebook 13 Mei 2017

Monday, November 7, 2016

Tiga Simpul Massa Aksi 411


Ada sejumlah dugaan mengapa aksi demontrasi 4 November 2016 kemarin mampu menggerakkan massa yang cukup besar. Kita paham memobilisasi massa, apalagi di Jakarta bukan perkara mudah. Dari pengamatan dan hasil wawancara saya setidaknya terdapat tiga motif mengapa mereka bergerak.

Saturday, September 3, 2016

Destinasi “Ngehits” Wisata Selfie Kalibiru Kulonprogo


Salah satu destinasi wisata alam di Yogyakarta yang sekarang lagi ngehits adalah Kalibiru. Tempat wisata ini terletak di Jogja Barat, tepatnya di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Menyuguhkan panorama alam yang natural, sekaligus menyediakan tempat selfie yang banyak diburu wisatawan untuk “narsis”.
Meski sudah tenar belakangan, namun saya baru bisa menyempatkan berkunjung lagi, pada bulan puasa kemarin untuk mengantarkan teman dari Jakarta. Sebelumnya saya pernah datang ketempat ini secara intensif, sekitar tahun 2006 sekitar satu bulan untuk melakukan observasi.

Saat itu, membantu teman Panggih Widodo yang sekarang menjadi komisioner KPUD Kulonprogo, menjadi konsultan sosial ekonomi Waduk Sermo yang dibiayai oleh salah satu Kementerian. Tugasnya melakukan observasi kemudian menyusun rekomendasi terkait pengembangan waduk sermo, terutama dari segi sosial masyarakat agar dapat mencegah laju sedimentasi. Dalam observasi itu, Kalibiru memang telah dilihat sebagai potensi wisata yang bisa dikembangkan berbasis kemasyarakatan.

Wednesday, August 24, 2016

Relevankah Kota Satelit Samigaluh?

Oleh: Arif Nurul Imam

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat ngobrol dengan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo yang sekarang telah demisioner dari jabatannya sejak 24 Agustus 2016. Dalam percakapan tersebut, politisi PDIP yang siap maju lagi dalam Pilkada 2017 ini sempat melontarkan mengenai gagasan atau proyeksi membangun Kota Satelit Samigaluh.


Namun karena pertemuan yang relatif singkat sudah tentu tak bisa diskusi panjang dan mendalam. Dokter spesialis kandungan tersebut kemudian mengajak saya diskusi di kemudian hari, namun hingga kini belum kesampain. Sebagai warga Samigaluh dan intens terhadap isu-isu kebijakan publik, melewati tulisan ringkas ini, saya ingin menyampaikan pandangan terkait rencana tersebut.

Wednesday, August 26, 2015

Pengkultus dan Pendukung Rasional Jokowi


Jokowi, presiden RI ke-7 yang terpilih secara demokratis memang tidak semua pendukungnya bercorak rasional, melainkan kombinasi antara pendukung rasional dan pengkultus. Kombinasi inilah yang mampu menghantarkan di kursi Presiden, sebab antara suara “preman pasar” dan suara profesor dalam penghitungan memiliki bobot sama satu suara.

Jika menyimak sebelum dan sesudah terpilih sebagai presiden, sebagian pendukung Jokowi terbilang fanatik sehingga apapun langkah Jokowi dianggap sebuah kebenaran dan yang berseberangan dianggap salah besar. Gejala ini mirip pengkultusan terhadap sosok Jokowi layaknya manusia setengah dewa yang tak memiliki cela dan kekurangan. Padahal, selagi masih manusia, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Maklum, sebagian besar pendukung Jokowi adalah masyarakat kelas bawah sebagaimana dirilis oleh berbagai lembaga survey.

Ancaman Krisis

Sejak Jokowi-Jusuf Kalla dilantik, situasi ekonomi bangsa kita belum menunjukkan arah dan gejala perbaikan yang signifikan. Jargon Nawacita serta berbagai langkah yang dilakukan tim ekonomi, ternyata belum mampu mencari jalan keluar dan landasan pondasi ekonomi yang kokoh. 

Kritis moneter suatu negara bisa dilihat dari banyaknya modal asing yang masuk ke dalam sektor keuangan negara tersebut. Banjirnya modal asing di sektor finansial dan perbankan menandakan suatu negara sudah masuk ke dalam fase awal krisis yang mengkhawatirkan. Saat ini, Indonesia sudah memasuki fase kedua masuknya modal asing tidak hanya melalui perbankan, tetapi juga sudah membanjiri pasar modal tanah air.

Tuesday, November 4, 2014

Catatan Pengalaman Mengikuti Faisal Basri


Faisal Basri adalah sosok tokoh publik yang sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat. Ia dikenal sebagai ekonom yang kritis, politisi dan aktifis. Gagasan-gagasannya banyak dicurahkan dalam bentuk tulisan yang banyak bertebaran di media massa selain beberapa buku. Itu sebabnya, lelaki kelahiran 6 November 1959, oleh sejumlah kalangan, misalnya Wakil Presiden Bodiono menyebut dia sebagai sosok intelektual aktifis yang tak puas hanya berkutat pada tataran teori dan konsep, namun berusaha keras untuk mewujudkannya.