Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Showing posts with label Sejarah Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Tokoh. Show all posts

Monday, March 23, 2015

Tjokroaminoto, Raja Jawa Tanpa Mahkota

Cerita pagi

dzikry subhanie

Sindo, minggu,  22 maret 2015  −  05:00 wi

Oleh pemerintah hindia belanda, haji oemar said (hos) tjokroaminoto disebut "de ongekroonde van java" (raja jawa tanpa mahkota). Berikut kisah guru sejumlah tokoh bangsa indonesia ini. 

Sebutan raja jawa tanpa mahkota yang diberikan kepada hos tjokroaminoto, ada yang juga menulisnya hos cokroaminoto, menggambarkan betapa besar pengaruh tjokroaminoto di kalangan masyarakat dan juga menggambarkan rasa khawatir pemerintah belanda terhadap tokoh ini.

Tjokroaminoto lahir di desa bakur, tegalsari, ponorogo, jawa timur, pada 1883. Namun,wikipedia mencatat tjokroaminoto lahir di sumoroto, ponorogo, jawa timur, 16 agustus 1882.

Monday, November 17, 2014

Faisal Basri: Sosdem atau Neolib?

Nov 17, 2014

Oleh: Arif Nurul Imam

Stigma ideologi yang melekat di wajah ekonom Faisal Basri memang paradoks. Di satu kalangan, ia dinilai sebagai tokoh politik dan ekonom berhaluan sosial demokrasi (sosdem), tapi di kubu lain kerap diasosiasikan dengan ideologi neoliberalisme alias pemuja pasar. Sewaktu di PAN, misalnya, mantan sekjen PAN ini, dipandang sebagai penganut paham sosdem, namun di beberapa kelompok intelektual aktivis kerap dituding berhaluan neoliberal.

Namun, menganut kedua ideologi tersebut juga mustahil. Tidak mungkin berkelamin ganda, karena itu hampir dipastikan menganut salah satu paham tersebut; entah sosdem atau pemuja pasar bebas.

Sesungguhnya, saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai untuk menjelaskan mengenai pertentangan kedua pandangan publik tersebut. Hanya saja, karena dinilai memiliki kedekatan pribadi serta mempunyai kemewahan untuk diskusi secara personal, acapkali diminta penjelasan oleh teman-teman yang berlatar belakang dari berbagai jenis profesi dan beragam ideologi, yang tidak kenal secara langsung dengan beliau. Tidak hanya itu, beberapa kawan yang mengenal langsung pun, pernah pula meminta penjelasan perihal tersebut, bahkan putra sulungnya yang kini tengah studi di Inggris.