Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Wednesday, February 12, 2020
HEADLINE: Zulkifli Hasan Kembali Nakhodai PAN, ke Mana Arah Partai Selanjutnya?
Melalui mekanisme
voting, Zulhas
memenangi bursa pemilihan ketua umum dengan raihan 331
suara. Sedangkan rivalnya Mulfachri 225 suara. Satu calon lainnnya, Drajat
Wibowo mendulang 6 suara. Tiga suara dinyatakan tidak sah.
Kongres V PAN menjadi panggung adu pengaruh dan adu kuat
sejumlah calon ketua umum. Setidaknya ada empat nama yang bersaing untuk
menjadi nakhoda PAN 2020-2025. Mereka adalah petahana Zulkifli Hasan, Mulfachri
Harahap, Asman Abnur dan Drajat Wibowo. Dalam perjalanannya, Asman Abnur
menyatakan mundur dari pencalonan dan menyatakan dukungan kepada Zulhas.
Pengamat politik dan
Direktur Indostrategi Arif Nurul Imam menyatakan, perebutan kursi ketua umum
DPP PAN dari awal cukup menarik. Meski terdapat empat nama calon, namun fakta
lapangan praktis hanya mengerucut pada dua nama, yakni Mulfachri dan
Zulkifli Hasan. Cukup beralasan jika dua nama tersebut menjadi unggulan dari awal.
Zulhas, sebagai petahana memiliki instrumen politik ketika dia memilih pengurus
daerah dan wilayah.
"Di sini Zulhas
bisa memainkan perannya sebagai ketua umum. Di PAN itu
pengurus daerah ditentukan oleh DPP. Jadi ketika masih mengendalikan
pengaruhnya itu, potensi meraup suara cukup besar," ulas Arif kepada Liputan6.com,
Selasa (11/2/2020).
Sedangkan Mulfachri,
sambung, Arif, kekuatannya terletak di Hanafi Rais dan topangan tokoh senior
PAN Amien Rais.
"Kenapa peluangnya
cukup besar? Karena selama ini peran Amien Rais di tubuh PAN cukup besar.
Bahkan sejak Kongres pertama hingga di Bali, kandidat yang didukung Amien pasti
menang," ujarnya.
Menurutnya, Kongres
kali ini memang menjadi pertaruhan Amien Rais apakah pengaruhnya masih
berpengaruh apa enggak. "Kalau calon yang lainnya masih berjuang
keras," singkat dia.
Terlepas dari itu, Arif
Nurul Imam menegaskan, ketua umum terpilih membawa beban berat. Zulkifli
Hasan dituntut bisa tegas menentukan arah politik PAN ke depannya.
"Harus diambil sikap konsisten, mau di pemerintah atau di
non-pemerintah," ujarnya.
PAN, kata dia, selama
ini selalu mengambil sikap politik ambivalen. Di satu sisi masuk ke pemerintah,
di satu sisi, kritis seolah-olah menjadi kekuatan penyeimbang atau oposisi di
Senayan. "Saya kira sikap ambivalen tidak mendapatkan nilai positif. Ini
harus diubah," katanya.
Dia yakin dengan
terpilihnya Zulhas, kemungkinan besar PAN akan
bergabung di pemerintah. "Kalau yang menang Mulfachri kemungkinan
non-pemerintah," jelasnya.
Pengamat
LIPI Aisah Putri menyatakan, siapa pun yang terpiilih sebagai Ketua Umum
DPP PAN 2020-2025 ada tiga pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Yang pertama,
yakni reformasi internal partai untuk menjadi partai modern yang efektif,
profesional dan mandiri.
"Sebagai contoh,
PAN saat ini lekat dengan sosok Amien Rais, dan sebagai partai modern maka
pelekatan dengan tokoh tertentu tidak sehat bagi partai, karena seharusnya
partai yang baik itu lekat dengan program yang ditawarkan dan ideologinya.
Ketua umum baru harus bisa membangun image dan tentunya mengelola partai
menjadi organisasi politik yang profesional dan efektif," terangnya Aisah,
Selasa (11/2/2020).
Kedua, menentukan
posisi politik PAN antara menjadi oposisi pemerintahan atau koalisi. Hal ini
penting bagi PAN untuk menentukan arahnya sejak saat ini karena di bawah
kepemimpinan Zulhas dan dengan bayang-bayang Amien Rais, posisi PAN tidak firmed.
"Jika ini secara
terus menerus terjadi maka akan sangat mungkin berpengaruh pada elektabilitas
partai ke depan. PAN bisa saja menjadi oposisi pemerintah karena ada peluang
memperoleh konstituen pada kelompok yang tidak sejalan dengan visi-misi
pemerintah saat ini, dan ini bisa jadi peluang meningkatkan elektabilitas pada
pemilu mendatang, terutama Pemilu 2024," jelasnya.
Di sisi lain, PAN bisa
juga secara tetap mempertahankan posisinya sebagai bagian dari koalisi
pemerintah. Pilihan ini harus ditentukan secara jelas oleh ketua umum dan
kepengurusannya yang baru.
Ketiga, lanjut Aisah,
ketua PAN terpilih harus mempersiapkan diri untuk Pilkada dan Pemilu 2024.
Pilkada akan dilaksanakan dalam waktu dekat, dan tentunya penting bagi ketua
umum untuk mempersiapkan diri menentukan calon-calon terbaiknya dalam pilkada.
"PAN sebagai
partai reformasi yang sudah ada sejak pemilu 1999 seharusnya juga mampu
mempersiapkan kadernya sendiri dalam kancah Pemilu Presiden 2024 yang
kemungkinan calonnya masih kosong," pungkasnya.
Aisah menambahkan,
terpilihnya Zulkifli sebagai ketua umum PAN untuk
kali kedua, tak lepas dari posisi petahana yang disandangnya. Zulhas
bisa lebih unggul dibandingkan dengan calon lain karena faktor ini memberikan
keuntungan baginya.
"Relasi dan
komunikasi politik Zulhas sebagai ketua umum dengan pengurus daerah tentunya
lebih intens dibandingkan dengan para calon lainnya," katanya.
Selain faktor petahana,
faktor kapasitas calon juga sangat berpengaruh. Sejauh mana calon memiliki
kapasitas manajemen partai, mengelola partai, serta memiliki jaringan politik
yang baik. Dari aspek ini, keempat calon memiliki pengalaman di dalam
kepengurusan partai dan berpolitik di kancah politik nasional, sehingga para
pengurus PAN yang akan memilih di dalam kongres bisa mempertimbangkan yang mana
calon terbaik.
"Namun, tentu yang
paling menonjol di antara calon tersebut adalah Pak Zulhas karena posisi
sebelumnya adalah ketua umum. Menjadi ketua umum," jelasnya.
Zulhas Vs
Mulfachri
Zulhas misalnya, jauh
sebelum voting sesumbar telah didukung 28 hingga 30 DPW PAN.
"Mereka mendaulat saya untuk bersedia mencalonkan diri.
Walaupun dari 30 itu kemudian ada 4 yang pindah
dukungan," ujar Zulhas di lokasi Kongres.
Terlepas dari itu,
Zulhas berharap Kongres PAN dapat berjalan kondusif. "Kalau ingat dulu di
Bali sama suasananya. Bahkan selisih suaranya cuma 6 suara. Tapi selesai
Kongres, PAN bersatu lagi," jelas dia.
Baginya, dinamika dalam
PAN saat Kongres menjadi hal biasa. Meminjam perumpamaan dari Amien Rais,
partai berlambang matahari itu layaknya gulat smack down yang
tampak sarat kekerasan namun damai usai pertandingan.
"Sesudah selesai,
PAN rukun bersatu kembali," Zulhas menandaskan.
Sementara
itu, Mulfachri mengaku enggan mengklaim jumlah dukungan yang dia kantongi.
Sebab hal tersebut bisa saja menimbulkan kesimpangsiuran informasi yang muncul
di masyarakat.
Hanya, merujuk pada
pertemuan di Batu, Jawa Timur, Jumat 7 Februari 2020, Mulfachri yang
maju sepaket bersama Hanafi Rais, mengklaim telah didukung 298 pemilik suara
kongres.
"Dukungan 298 voters ini
adalah berdasarkan registrasi kehadiran voters dari DPW dan
DPD PAN se-Indonesia. Berdasarkan data riil mutakhir, yang sudah hadir di Batu,
Malang ada 298 voters. Karena berdasarkan korwil kami yang tersebar di 34 DPW
PAN, masih ada konfirmasi kehadiran voters," kata
Sekretaris Tim Pemenangan Mulfachri-Hanafi, Ahmad Yohan, Selasa.
Dia juga mengharapkan
Kongres V PAN aman dan lancar. Kalaupun ada beda pendapat, khususnya
antara pendukung masing-masing caketum, hal tersebut merupakan sesuatu yang
wajar.
"Bahwa ya ada
riak-riak kecil seperti yang teman-teman dengar itu. Itu sesuatu yang wajar
menurut saya," kata dia.
Yang penting, perbedaan
pendapat tersebut tidak mengganggu kemeriahan kongres.
"Seperti yang saya
sampaikan berkali-kali, dalam sebuah pesta besar kalau ada satu dua piring
pecah saya kira itu hal yang wajar dan tidak merusak kemeriahan pesta,"
terang dia.
"Jadi satu dua
piring pecah dalam sebuah perhelatan besar seperti ini saya kira itu sesuatu
yang masih masuk akal masih bisa diterima," ungkapnya.
Hal utama dan
substansial yang harus diperhatikan dan dikawal, yakni agenda-agenda Kongres
dapat dijalankan. "Yang paling penting hal-hal yang subtansial tetap bisa
terlaksana dalam kegiatan kongres ini yang memang menjadi agenda kongres,"
urainya.
Ricuh
Kongres, dari Rebut Laptop hingga Senjata Tajam
Kongres V PAN di Hotel Claro Kendari, dipenuhi dengan drama
keributan yang melibatkan para pendukung calon ketua umum. Suasana panas sudah
terlihat di hari pertama, Senin 10 Februari 2020. Kericuhan terjadi antar
peserta kongres yang menuntut panitia menutup proses pendaftaran peserta
kongres. Sementara lainnya menolak dan ngotot masuk. Saling adu suara dengan
nada tinggi antara satu peserta dengan berlangsung sengit.
"Kita boikot
kongres kalau tidak hentikan pendaftaran," teriak seorang peserta kongres
PAN, Senin.
Kericuhan berujung aksi
tindak kekerasan. Termasuk juga adanya perampasan lima buah laptop panitia
sebagai sarana penyimpanan data peserta kongres.
Mewakili peserta dan
panitia kongres, Ketua DPW PAN Kalimantan Timur Darlis Pattalongi menyampaikan
keberatannya atas kejadian tersebut.
"Sangat
disayangkan, ada kontak fisik yang dilakukan oknum peserta. Ada penyitaan alat
elektronik yang itu ganggu jalannya registrasi," tutur Darlis di Hotel
Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (10/2/2020).
Menurut Darlis, insiden
ini membuat kongres terhambat dan merugikan partai. Sebagai sesama kader,
tentunya sudah menjadi keharusan menjaga nama baik partai yang menaunginya.
Ricuh berlanjut di hari
kedua, Selasa (11/2/2020) saat agenda pembacaan tata tertib kongres.
Suasana Hotel Claro Kendari yang sempat adem kembali panas. Kursi, botol
minuman plastik dan kardus-kardus beterbangan tak tentu arah. Sebagian
massa yang ada di ruangan Phinisi Hotel Claro semburat berlarian mengamankan
diri.
Akibat aksi liar
tersebut, pintu kaca hotel pecah berantakan, susunan meja dan kursi berantakan.
Tak hanya itu, sejumlah orang terluka di kepala akibat tertimpuk kursi dan
benda-benda lainnya. Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Merdisyam sampai
harus berteriak-teriak memberikan instruksi untuk menenangkan suasana.
Ricuh kali ini
disebabkan ada sejumlah peserta yang meminta sterilisasi peserta
sidang. Ada kelompok peserta yang menginginkan sidang tetap dilanjutkan.
Sementara ada sekelompok peserta yang meminta agar orang-orang yang bukan
peserta keluar dari ruang sedang.
"Yang bukan
peserta, keluar!" teriak salah satu peserta.
"99 persen
(sidang) kondusif. Jangan terganggu oleh 1 persen yang mau rusuh. Boleh main
taktis persidangan tapi jangan kekanak-kanakan," ungkap suara yang lain.
Asalnya dari panggung utama.
Ketua Panitia Pelaksana
(Organizing Committee/OC) Kongres PAN Eko Hendro Purnomo harus susah payah
meminta agar segenap peserta sidang kembali tenang agar sidang dapat
dilanjutkan. "Pak, duduk Pak," ujar Eko.
Tak cukup itu, di luar
persidangan, Polda Sulawesi Tenggara juga menemukan seorang peserta kongres
kedapatan membawa senjata tajam. Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Merdisyam
menyampaikan, pria itu diamankan di pelabuhan dan diketahui merupakan peserta
Kongres PAN.
"Waktu ada datang
dari Ferry, rombongan datang kemari itu memang kita razia. Dan memang didapati
satu orang membawa senjata tajam," tutur Merdisyam di Hotel Claro Kendari,
Senin (10/2/2020).
Menurut Merdisyam, pria
itu membawa senjata tajam jenis golok. Dia masih diamankan petugas. "Titik
razia ada di pelabuhan, di bandara, segala pintu masuk," jelas dia.
Berdasarkan informasi,
peserta tersebut merupakan pendukung caketum PAN Mulfachri Harahap. Hanya saja,
Merdisyam tidak merinci identitas pria tersebut.
"Masalah dia
pendukung siapa, mendukung siapa, kita tidak melihat itu. Karena kita melihat
bahwa ada sesuatu melanggar daripada ketentuan undang-undang," Merdisyam
menandaskan.
Monday, February 10, 2020
Pengamat: Kritik Politisi PDIP Bisa Dijadikan Bahan Evaluasi Kabinet
Pengamat: Kritik Politisi PDIP Bisa
Dijadikan Bahan Evaluasi Kabinet
Di 100 hari kepemimpinan
Presiden Jokowi
Senin, 10 Februari 2020 16:49 WIB
INDOZONE.ID
- Pengamat politik yang juga Direktur
IndoStrategi Research and Consulting, Arif Nurul Iman menyatakan pernyataan
kritik Politisi PDIP Effendi Simbolon terhadap Kabinet Periode 2 Presiden Joko
Widodo harus dijadikan bahan evaluasi para menterinya saat ini.
"Kalau
kritik Effendi Simbolon, saya kira ada benarnya, tapi kalau pos menteri apa
saya kira perlu evaluasi," ucapnya kepada Indozone, Senin, (10/2/2020)
Menurutnya,
100 hari kepemimpinan Jokowi ini bisa dilihat dari kinerja para pembantunya
yaitu menteri-menteri di kabinet periode kedua ini.
"Sampai
mana kinerjanya, mana yang menunjukkan gejala bagus, mana yang masih stagnan,
atau kemudian kinerja cenderung mengalami penurunan kualitas," ungkapnya.
Arif
mengatakan kabinet pemerintahan Jokowi masih perlu dievaluasi. Beberapa sektor
kementerian seperti BUMN, Jaksa Agung dinilai memiliki tren positif dan ada
gejala-gejala terobosan.
Sementara
itu, sektor- sektor kementerian tertentu misalnya memang seperti di bidang
ekonomi yang menggawangi omnibus law itu menjadi kontroversi.
"Karena
sampai hari ini juga publik tidak tahu tentang RUU sapu jagad tersebut. Padahal
mekanisme pembuatan UU, publik harus mengkritisi biar tahu biar tidak ada
kerugian disatu pihak dan menguntungkan pihak lain jika berlaku UU ini,"
jelasnya.
Terkait
menteri yang harus dikritisi, sambungnya, ini tentu harus dievaluasi mendalam
dan menyeluruh siapa yang kompeten dan tidak kompeten. Dia mengatakan yang hari
ini perlu disoroti kementerian-kementerian yang merancang RUU Omnibus Law itu.
"Kalau
UU itu tidak dibuka ke publik itu artinya melanggar UU tahun 2019 tentang
Pembentukan perundang-undangan karena perlu ada partisipasi masyarakat,"
katanya.
Sebelumnya.
Politikus PDIP Effendi Simbolon menilai ada kesalahan dalam susunan Kabinet
Indonesia Maju Pemerintahan Presiden Jokowi. Setelah 100 hari kerja, sejumlah
menteri di kabinet dinilai tak dapat menunjukkan kemampuannya. Effendi menyebut
susunan kabinet sekarang bukanlah tim impian.
Friday, February 7, 2020
Pengamat: Uji Kelayakan Cawagub Jakarta Perlu Dilakukan
Jumat 07 Feb 2020 01:53 WIB
Rep: Amri Amrullah/ Red: Bayu Hermawan
Pengamat menilai uji
kelayakan Cawagub Jakarta perlu dilakukan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jelang masa
pemilihan dua calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta, yakni Nurmansjah
Lubis dan Ahmad Riza Patria, muncul desakan uji kelayakan kedua calon. Desakan
uji publik atau kompetensi ini bentuk kelayakan calon untuk dipilih atau
dilihat kemampuannya oleh warga Jakarta.
Pengamat politik dan Direktur
IndoStrategi Arif Nurul Imam menilai wacana uji kelayakan cawagub DKI
Jakarta patut didukung dan di implementasikan. Wacana ini, menurut Arif, dapat
menjadi alat ukur siapa yang paling memahami persoalan dan tantangan Jakarta.
"Wacana mengenai digelar debat publik perlu didukung, karena dengan debat publik bisa mengetahui sejauhmana derajat pemahaman cawagub DKI Jakarta dalam melihat persoalan dan tantangan Jakarta," kata Arif, Kamis (6/2).
"Wacana mengenai digelar debat publik perlu didukung, karena dengan debat publik bisa mengetahui sejauhmana derajat pemahaman cawagub DKI Jakarta dalam melihat persoalan dan tantangan Jakarta," kata Arif, Kamis (6/2).
Menurut Arif, kompleksitas persoalan
Jakarta mesti dipahami oleh cawagub sehingga ketika terpilih tidak membuang
waktu lagi untuk mempelajari. Pemahaman dan kedalaman mengenai persoalan tentu
perlu di uji publik.
Ia berharap debat terbuka dapat
mengundang akademisi hingga aktivis dari berbagai bidang serta warga. Komponen
masyarakat yang hadir diharapkan dapat memberikan masukan dan kritik mengenai
pembangunan dan kepemimpinan Jakarta. Selain itu, kata Arif, dengan adanya
debat publik, masyarakat juga mendapatkan edukasi politik, bukan sekadar
politik perebutan kekuasaan belaka.
"Uji publik juga memiliki fungsi
sebagai pendidikan politik warga, sehingga warga bisa mengetahui mengenai
gagasan dan ide terobosan cawagub," ujarnya.
Sebelumnya kedua cawagub dari PKS dan Gerindra ini kian intensif melakukan pendekatan kepada partai politik dengan melanjutkan silaturahim ke sejumlah fraksi di DPRD DKI Jakarta. Kedua cawagub ini telah mengunjungi beberapa fraksi di DPR DKI Jakarta, sebagai bentuk silaturahim menjalin komunikasi awal ke fraksi-fraksi.
Sebelumnya kedua cawagub dari PKS dan Gerindra ini kian intensif melakukan pendekatan kepada partai politik dengan melanjutkan silaturahim ke sejumlah fraksi di DPRD DKI Jakarta. Kedua cawagub ini telah mengunjungi beberapa fraksi di DPR DKI Jakarta, sebagai bentuk silaturahim menjalin komunikasi awal ke fraksi-fraksi.
Usulan uji publik sempat diusulkan oleh
Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Idris. menilai safari
politik dua cawagub, perlu tapi bukan jaminan pasti dipilih. Menurutnya yang
penting adalah kapasitas dan kapasilitas dari dua cawagub tersebut. Sebab,
menurut Idris, dua nama Cawagub DKI Jakarta ini harus bisa melengkapi, atau
menjadi jalan keluar dari kekurangan yang dimiliki Gubernur DKI Jakarta saat
ini.
Karena itulah, menurutnya, PSI mengusulkan perlunya dilakukan uji publik terhadap dua cawagub ini. "Kalau pertimbangan kami adalah harus ada proses yang terbuka, yaitu uji publik (public hearing), bahkan jika perlu disiarkan di TV nasional," ujar Idris.
Karena itulah, menurutnya, PSI mengusulkan perlunya dilakukan uji publik terhadap dua cawagub ini. "Kalau pertimbangan kami adalah harus ada proses yang terbuka, yaitu uji publik (public hearing), bahkan jika perlu disiarkan di TV nasional," ujar Idris.
Diakui dia, secara kapasitas dan
kapabilitas mungkin dua cawagub yang diusulkan oleh PKS dan Gerindra ini sudah
memenuhi syarat. Karena ia yakin dua nama tersebut mempunyai pengalaman dalam
berorganisasi dan kepartaian. Namun untuk persoalan penanganan problem kota
Jakarta, menurutnya publik harus mendengarkan suara dari dua kandidat cawagub
ini.
"Perlu uji publik, ada public hearing. Kedua calon duduk bersama ada sesi pertanyaan mendalami kompetensi dan komitmen mereka tentang pembangunan Jakarta," ucapnya.
https://republika.co.id/berita/q5a6y4354/pengamat-uji-kelayakan-cawagub-jakarta-perlu-dilakukan"Perlu uji publik, ada public hearing. Kedua calon duduk bersama ada sesi pertanyaan mendalami kompetensi dan komitmen mereka tentang pembangunan Jakarta," ucapnya.
Thursday, February 6, 2020
Warga Jakarta Menanti Wagub Baru
Jum'at, 31
Januari 2020 - 07:02 WIB
views: 5.776
Arif Nurul Imam
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research And Consulting
Kekosongan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak ditinggalkan Sandiaga Uno karena ikut kontestasi pemilihan presiden pada 2019 lalu segera memasuki babak baru. Dua nama calon wakil gubernur (wagub) kini sudah diajukan dan akan dipilih oleh DPRD DKI Jakarta.
Sandiaga Uno resmi mundur sebagai Wagub DKI sejak 27 Agustus 2018. Praktis, kursi wagub kosong sudah berlangsung selama 17 bulan. Kekosongan jabatan dalam rentang waktu lama tersebut tentu saja berdampak terhadap kinerja dan performa Pemerintah DKI Jakarta dalam pelayanan publik.
Bagi Anies Baswedan sebagai gubernur, menjadi pemimpin tunggal di kota sebesar Jakarta tentu memiliki beban dan tanggung jawab berat. Dengan kompleksitas persoalan, memimpin Jakarta tentu bukan perkara mudah dan ringan. Tarik ulur kepentingan elite yang membuat penggantian Sandiaga Uno adalah kerugian bagi warga Jakarta.
Meski terlalu lama sendiri, kini Gubernur Anies Baswedan bisa berharap segera memiliki tandem kerja setelah dua nama calon wakil gubernur (cawagub) diajukan untuk dipilih DPRD DKI. Dua cawagub itu adalah Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra dan Nurmansyah Lubis dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gerindra akan segera menyurati Anies untuk menyampaikan dua nama cawagub tersebut sekaligus menargetkan rapat paripurna pemilihan digelar pada awal Februari 2020.
Jangan Ditunda Lagi
Sejatinya, pengisian jabatan wakil gubernur telah berulang kali diwacanakan. Beberapa nama calon sempat diajukan namun batal lagi. Hanya saja, kerap terjadi deadlock karena partai politik pengusung Anies gagal membangun negosiasi dan kompromi politik. Padahal penundaan yang berlarut-larut ini sudah pasti memiliki dampak bagi perkembangan serta kemajuan kota Jakarta. Setidaknya, penundaan berlarut-larut tersebut memiliki beberapa dampak.
Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research And Consulting
Kekosongan kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak ditinggalkan Sandiaga Uno karena ikut kontestasi pemilihan presiden pada 2019 lalu segera memasuki babak baru. Dua nama calon wakil gubernur (wagub) kini sudah diajukan dan akan dipilih oleh DPRD DKI Jakarta.
Sandiaga Uno resmi mundur sebagai Wagub DKI sejak 27 Agustus 2018. Praktis, kursi wagub kosong sudah berlangsung selama 17 bulan. Kekosongan jabatan dalam rentang waktu lama tersebut tentu saja berdampak terhadap kinerja dan performa Pemerintah DKI Jakarta dalam pelayanan publik.
Bagi Anies Baswedan sebagai gubernur, menjadi pemimpin tunggal di kota sebesar Jakarta tentu memiliki beban dan tanggung jawab berat. Dengan kompleksitas persoalan, memimpin Jakarta tentu bukan perkara mudah dan ringan. Tarik ulur kepentingan elite yang membuat penggantian Sandiaga Uno adalah kerugian bagi warga Jakarta.
Meski terlalu lama sendiri, kini Gubernur Anies Baswedan bisa berharap segera memiliki tandem kerja setelah dua nama calon wakil gubernur (cawagub) diajukan untuk dipilih DPRD DKI. Dua cawagub itu adalah Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra dan Nurmansyah Lubis dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Gerindra akan segera menyurati Anies untuk menyampaikan dua nama cawagub tersebut sekaligus menargetkan rapat paripurna pemilihan digelar pada awal Februari 2020.
Sejatinya, pengisian jabatan wakil gubernur telah berulang kali diwacanakan. Beberapa nama calon sempat diajukan namun batal lagi. Hanya saja, kerap terjadi deadlock karena partai politik pengusung Anies gagal membangun negosiasi dan kompromi politik. Padahal penundaan yang berlarut-larut ini sudah pasti memiliki dampak bagi perkembangan serta kemajuan kota Jakarta. Setidaknya, penundaan berlarut-larut tersebut memiliki beberapa dampak.
Pertama, kekosongan kursi wakil gubernur praktis menyulitkan Anies dalam
bekerja. Dampaknya sebagai pemegang jabatan politik akan semakin ringkih,
karena kewajiban Anies untuk mengelola eksekutif akan semakin menurun
produktivitasnya. Kedua, kekosongan jabatan wakil gubernur sudah pasti akan
menambah beban gubernur sehingga pekerjaan dan tanggung jawab yang semestinya
bisa dikerjakan bersama harus dipikul sendiri.
Dampaknya sudah pasti ada penumpukan beban kerja dan aneka pelayanan publik bisa tidak dibereskan secara maksimal. Ambil contoh dalam kasus banjir di awal tahun ini, Anies tampak kedodoran lantaran harus bekerja sendirian. Dua dampak tersebut akan sangat merugikan jika pemilihan wakil gubernur sampai tertunda lagi.
Figur Pengganti
Mencari pengganti Sandiaga Uno tentu tidak boleh sekadar mendapat dukungan politik belaka. Selain soal dukungan politik, ada syarat yang mesti dipenuhi dan menjadi harus jadi pertimbangan penting agar pengisian jabatan wakil gubernur ini memiliki dampak positif yang nyata bagi warga Jakarta.
Dua nama cawagub yang sudah diajukan ke DPRD untuk dipilih tentu memiliki plus-minus sehingga siapa yang pas dan tepat bergantung kebutuhan. Paling tidak, ada dua pertimbangan yang mesti dilihat dalam memilih siapa yang bakal menjadi wakil gubernur.
Pertama, memiliki chemestrydengan Anies Baswedan selaku gubernur. Ini penting karena kepemimpinan efektif tidak akan lahir dari pasangan yang dipaksakan, tetapi karena memahami pengalaman, integritas, dan memiliki kesamaan pandangan. Dengan demikian, harapannya akan terjadi duet kepemimpinan yang saling mengisi dan bisa bersinergi dalam mewujudkan kebutuhan warga Jakarta.
Kedua, satu visi dalam memahami Jakarta. Dalam kerangka berpikir juga mesti memiliki kesamaan visi dalam melihat serta mendiagnosis persoalan ibu kota. Pemahaman yang seirama tentu akan menghindarkan program kerja yang potensial tumpang-tindih dan sehingga hanya menghambur-hamburkan uang APBD.
Dua nama cawagub yang disorongkan tentu sudah dipilih dengan menggunakan berbagai pertimbangan matang. Hanya saja, dua pertimbangan di atas juga tak boleh dinafikan. Dua hal tersebut perlu dipertimbangkan demi menemukan sosok terbaik untuk mengisi kursi wakil gubernur. Mari kita lihat dan uji dalam prosesnya.
https://nasional.sindonews.com/read/1512748/18/warga-jakarta-menanti-wagub-baru-1580428957
Dampaknya sudah pasti ada penumpukan beban kerja dan aneka pelayanan publik bisa tidak dibereskan secara maksimal. Ambil contoh dalam kasus banjir di awal tahun ini, Anies tampak kedodoran lantaran harus bekerja sendirian. Dua dampak tersebut akan sangat merugikan jika pemilihan wakil gubernur sampai tertunda lagi.
Figur Pengganti
Mencari pengganti Sandiaga Uno tentu tidak boleh sekadar mendapat dukungan politik belaka. Selain soal dukungan politik, ada syarat yang mesti dipenuhi dan menjadi harus jadi pertimbangan penting agar pengisian jabatan wakil gubernur ini memiliki dampak positif yang nyata bagi warga Jakarta.
Dua nama cawagub yang sudah diajukan ke DPRD untuk dipilih tentu memiliki plus-minus sehingga siapa yang pas dan tepat bergantung kebutuhan. Paling tidak, ada dua pertimbangan yang mesti dilihat dalam memilih siapa yang bakal menjadi wakil gubernur.
Pertama, memiliki chemestrydengan Anies Baswedan selaku gubernur. Ini penting karena kepemimpinan efektif tidak akan lahir dari pasangan yang dipaksakan, tetapi karena memahami pengalaman, integritas, dan memiliki kesamaan pandangan. Dengan demikian, harapannya akan terjadi duet kepemimpinan yang saling mengisi dan bisa bersinergi dalam mewujudkan kebutuhan warga Jakarta.
Kedua, satu visi dalam memahami Jakarta. Dalam kerangka berpikir juga mesti memiliki kesamaan visi dalam melihat serta mendiagnosis persoalan ibu kota. Pemahaman yang seirama tentu akan menghindarkan program kerja yang potensial tumpang-tindih dan sehingga hanya menghambur-hamburkan uang APBD.
Dua nama cawagub yang disorongkan tentu sudah dipilih dengan menggunakan berbagai pertimbangan matang. Hanya saja, dua pertimbangan di atas juga tak boleh dinafikan. Dua hal tersebut perlu dipertimbangkan demi menemukan sosok terbaik untuk mengisi kursi wakil gubernur. Mari kita lihat dan uji dalam prosesnya.
https://nasional.sindonews.com/read/1512748/18/warga-jakarta-menanti-wagub-baru-1580428957
Friday, January 31, 2020
Ketidakpuasan Jokowi atas Draf Omnibus Law RUU Cipta Lapangan Kerja.
Ketidakpuasan Jokowi atas Draf Omnibus Law RUU Cipta Lapangan Kerja.
Kompas.com - 31/01/2020, 08:55
WIB
Lihat Foto Presiden Joko Widodo saat menghadiri peresmian Terowongan Air Nanjung di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020). Presiden Jokowi meresmikan Terowongan Nanjung sepanjang 230 meter dengan diameter 8 meter yang dibangun sebagai salah satu langkah penanggulangan banjir di kawasan Bandung Selatan.(SETPRES/AGUS SUPARTO)Penulis Fabian Januarius Kuwado | Editor Bayu Galih JAKARTA,
KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo
disebut-sebut belum puas atas draf Rancangan Undang-Undang Cipta Lapangan
Kerja, yang merupakan salah satu omnibus law usulan pemerintah. Dalam rapat
terbatas yang digelar Selasa (28/1/2020) lalu, Kepala Negara meminta supaya
Kementerian Koordinator Ekonomi yang menjadi leading sector pembahasan omnibus
law di eksekutif tak mengabaikan pasal-pasal proteksi dan pengembangan usaha
mikro, kecil, dan menengah ( UMKM).
"Presiden memberikan catatan-catatan penting untuk diperhatikan
dalam proses finalisasi draf," ujar Juru Bicara Kepresidenan Dini Shanti
Purwono saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (30/1/2020).
"Presiden cuma memastikan
bahwa tujuan yang diharapkan dalam omnibus law (RUU) Cipta Lapangan Kerja ini
tercapai," kata dia.
Presiden Jokowi ingin omnibus law RUU Cipta Lapangan Kerja dapat
mewujudkan iklim usaha yang kondusif sehingga lapangan kerja baru tercipta bagi
masyarakat, terutama pengangguran. Presiden Jokowi juga ingin RUU Cipta
Lapangan Kerja menjadi omnibus law yang justru "menggulung tikar"
UMKM, melainkan menjadi "karpet merah" agar pelaku UMKM berkembang
dan berdaya.
"Khusus soal UMKM, pesannya Bapak Presiden jelas bahwa UMKM tidak
boleh terlukai dalam rangka cita-cita menciptakan lapangan kerja ini,"
ujar Dini.
Namun demikian, Dini kurang setuju apabila muncul persepsi bahwa
ketidakpuasan inilah yang semata-semata menghambat penyerahan Surat Presiden
(Surpres) RUU Cipta Lapangan Kerja ke DPR RI untuk segera dibahas.
Diketahui, Menteri Koordinator Ekonomi Airlangga Hartarto awalnya
menyebut, Surpres RUU Cipta Lapangan Kerja ini akan dikirimkan ke parlemen pada
akhir Januari. Namun, rupanya hanya Surpres RUU Perpajakan sebagai omnibus law
yang dikirim ke Senayan.
"Pokoknya pada intinya Bapak Presiden hanya ingin memastikan bahwa
semua aspek penting dan relevan dalam omnibus law ini sudah dipertimbangkan dan
diatur dalam porsi yang tepat dan berimbang," ujar Dini.
Jangan ada penumpang gelap Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki
menyampaikan, Presiden memang sangat mewanti- wanti menteri terkait soal isi
omnibus law RUU Cipta Lapangan Kerja.
"Presiden menyampaikan dalam ratas, 'awas ya kalau ada banyak
penumpang gelapnya'. Nah, jadi itu penting," ujar Teten, beberapa waktu
lalu.
"Kemudahan dalam investasi,
ekspor, pendirian usaha, pembiayaan dan lain sebagainya pada UMKM. Inilah yang
menjadi fokusnya Presiden. Makanya Presiden ingatkan, jangan ada penumpang
gelapnya," kata dia.
Mengenai Surpres RUU Cipta Lapangan Kerja yang tertunda, Teten enggan
memberikan komentar. Ia menyerahkan prosesnya ke kementerian terkait. Ia hanya
memastikan bahwa usulan kementeriannya tentang proteksi dan pengembangan UMKM
sudah disampaikan.
Menteri Koordinator Ekonomi
Airlangga Hartarto saat dikonfirmasi Kompas.com tidak menjawab lugas saat
ditanya apakah benar Presiden Jokowi kurang puas terhadap isi omnibus law RUU
Cipta Lapangan Kerja lantaran belum mengakomodasi poin perlindungan UMKM.
Namun, Ketua Umum Partai Golkar itu mengaku, dalam rapat internal Selasa
lalu, salah satu topik yang dibahas adalah percepatan penyelesaian draf omnibus
law beserta isu-isu strategis di dalamnya, termasuk UMKM. Tanpa menyebut secara
rinci, ia sekaligus memastikan bahwa pasal-pasal yang menyangkut isu strategis
telah masuk ke dalam draf RUU omnibus law.
"Dibahas mengenai isu-isu strategis dan seluruhnya sudah dimasukkan
ke dalam omnibus law," ujar dia.
Sementara soal perlindungan dan pengembangan UMKM, Airlangga Hartarto
menyebutkan, poin itu bakal masuk ke dalam daftar prioritas. Namun, ia tidak
menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud.
"Itu teknis. Jadi nanti UMKM
akan diberikan sektor-sektor tertentu yang hanya ditugaskan kepada UMKM. Tentu
prioritasnya itu UMKM tetap dijaga sektor-sektornya serta agar UMKM diberikan
ruang yang seluas-luasnya," ujar Airlangga.
Jangan korbankan rakyat kecil
Pengamat Politik dari Indostrategi Arif Nurul Imam mengatakan, hambatan
RUU omnibus law saat ini lebih nampak dari sisi internal eksekutif sendiri,
bukan dari DPR RI. Hal itu disebabkan konfigurasi di parlemen yang lebih banyak
diisi oleh partai politik pendukung pemerintah.
"Dominan merupakan pendukung pemerintah sehingga mereka memilih
diam, bukan melakukan kontrol. Kekosongan ini kemudian diambil oleh masyarakat
sipil menyuarakan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat," ujar Arif.
Masyarakat sipil yang turun memprotes RUU omnibus law itu berasal dari
kalangan buruh dan UMKM.
Melihat pertarungan kepentingan yang terjadi dalam pembahasan omnibus
law di eksekutif, Arif merasa maklum apabila hingga saat ini pemerintah belum
membuka draf RUU itu.
"Kalau memang benar Presiden
marah dengan isi RUU omnibus law itu, pantas saja draf itu disusunnya rahasia
oleh kementerian," ujar Arif.
Ia pun mengingatkan, RUU omnibus
law harus berdampak positif bagi rakyat kecil, tidak hanya pengusaha saja.
Lima tahun ke depan merupakan periode terakhir Presiden Jokowi. Oleh
sebab itu, Jokowi semestinya memberikan warisan yang positif bagi Indonesia
dalam bentuk regulasi.
"Presiden harus mengontrol
benar agar RUU omnibus law bisa memberi keadilan bagi semua pihak. Jangan
sampai ada dominasi kepentingan, misalnya pengusaha sehingga mengorbankan
rakyat kecil," ujar Arif.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketidakpuasan Jokowi atas Draf Omnibus Law RUU Cipta Lapangan Kerja...",
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketidakpuasan Jokowi atas Draf Omnibus Law RUU Cipta Lapangan Kerja...",
https://nasional.kompas.com/read/2020/01/31/08554991/ketidakpuasan-jokowi-atas-draf-omnibus-law-ruu-cipta-lapangan-kerja?page=all.
Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Bayu Galih
Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Bayu Galih
Tuesday, January 21, 2020
Pengamat: Dinasti Politik Menghambat Kesejahteraan
Pengamat: Dinasti Politik Menghambat
Kesejahteraan
Kompas.com - 20/01/2020, 15:17
(Kompas.com) Editor Farid Assifa
KOMPAS.com - Pengamat politik dan Direktur
IndoStrategi Arif Nurul Imam menilai, praktik dinasti politik akan menghambat
percepatan terwujudnya demokrasi subtansial, yaitu kesejahteraan dan keadilan.
Hal demikian disampaikan Arif Nurul Imam dalam
keterangan tertulis kepada Kompas.com, Senin (20/1/2020). Pendapat Arief itu
disampaikan dalam diskusi bertajuk “ Dinasti Politik dalam Konstelasi Pilkada
Serentak” yang digelar Sultan Center Banten di aula Sultan Center, Serang,
Banten, Minggu (19/01/2020).
Menurut Arif, praktik dinasti politik sejatinya
terjadi di banyak negara, termasuk negara kampiun demokrasi.
Hanya saja, kata dia, praktik dinasti politik
di luar negeri tetap menimbang aspek kapasitas, pengalaman, dan rekam jejak dan
pengabdian di masyarakat. Karena itu, lanjut dia, dinasti politik semacam ini
tidak memiliki dampak buruk signifikan bagi perkembangan demokrasi subtansial.
“ Dinasti politik sesungguhnya fenomena global,
di Amerika ada dinasti Kennedy, Bush dan lain-lain, hanya mereka mengedepankan
aspek meritokrasi bukan hanya karena masih saudara. Sementara di Indonesia,
dinasti politik berjalan ke arah negatif karena hanya mempertimbangkan aspek
hubungan darah, popularitas dan ketersediaan logistik,” katanya.
Dinasti politik semacam ini tentu tidak memberi
dampak positif bagi demokrasi, terutama demokrasi subtansial.
Dikatakan Arif, dinasti politik ini hanya
melanggengkan kekuasaan semata, tanpa memberi efek positif bagi perkembangan
demokrasi. “Dinasti politik seperti ini juga menjadi hambatan mewujudkan
demokrasi subtansial karena pemimpin produk dinasti politik tidak memiliki
kepekaaan pada persoalan masyarakat kecil, sehingga makin sulit mewujudkan cita-cita
kesejahteraan,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengamat: Dinasti Politik Menghambat Kesejahteraan", https://medan.kompas.com/read/2020/01/20/15172161/pengamat-dinasti-politik-menghambat-kesejahteraan.
Monday, January 13, 2020
Legitimasi hasil Pemilu 2019 setelah OTT komisioner KPU
Legitimasi hasil
Pemilu 2019 setelah OTT komisioner KPU
Tertangkapnya Komisioner Komisi
Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan dalam
operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah pasti menjadi guncangan dahsyat
dalam dunia kepemiluan di Tanah Air. KPK akhirnya menetapkan Komisioner KPU
Wahyu Setiawan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penetapan anggota
DPR terpilih periode 2019-2024.
Penyelenggara pemilu, termasuk KPU dituntut untuk bekerja independen dan
profesional. Hal ini karena fungsi dan peran mereka merupakan penyelenggara
sekaligus wasit, sehingga mesti menjunjung integritas untuk menciptakan pemilu
yang jujur dan adil.
Meski pemilu sudah usai dan telah melantik pemenang kontestasi, namun ada
persoalan lain dari peristiwa kasus ini. Peristiwa ini selain akan menurunkan
kepercayaan publik pada KPU, juga potensial menggerus bobot dan legitimasi
hasil Pemilu 2019.
Personal atau sistematik?
Sebagaimana diberitakan oleh media, kasus suap yang melibatkan mantan
komisioner KPU Wahyu Setiawan ini berawal adanya pengajuan proses pergantian
antarwaktu (PAW) calon legislatif yang dilayangkan PDIP kepada KPU sebanyak
tiga kali yang berisi permintaan calon yang telah meninggal dunia atas nama
Nazarudin Kiemas, nomor urut 1, dapil Sumatera Selatan I, suara sahnya
dialihkan kepada calon atas nama Harun Masiku.
Seperti disampaikan Ketua KPU Arief Budiman, kronologi permohonan PAW
anggota DPR terpilih Fraksi PDIP yang diajukan oleh tersangka suap, Harun
Masiku. KPU menjelaskan PDIP mengirimkan surat sebanyak tiga kali. KPU tidak
bisa mengabulkan permohonan PDIP yang dilayangkan PDIP karena Harun Masiku
tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi PAW anggota DPR.
Wahyu Setiawan sebenarnya juga setuju dengan keputusan KPU menolak
permintaan PDIP untuk melakukan PAW terhadap anggota DPR dari dapil
Sumatera Selatan I Riezky Aprilia. Dalam tiga kali rapat pleno terkait PAW
tersebut, tidak ada anggota KPU yang berbeda pendapat, semua menolak permohonan
PAW caleg PDIP.
Alasan penolakan KPU jelas dan tegas, karena sesuai dengan peraturan yang
berlaku, PAW anggota DPR digantikan oleh calon anggota legislatif dengan
perolehan suara terbanyak berikutnya di dapil tersebut, bukan sesuai
kewenangan partai.
Jika melihat kronologi ini, setidaknya dari rapat pleno KPU, kejadian ini
lebih condong bersifat personal, bukan sistematik. Asumsi ini paling tidak
lantaran dalam rapat pleno tidak ada upaya penggiringan opini dan perdebatan
untuk mengegolkan permintaan PDIP. Bahkan tak ada perpedaan pendapat, termasuk
dari Wahyu Setiawan. Tentu ini masih bersifat tentatif, seraya menunggu
penyelidikan lebih lanjut oleh penegak hukum, apakah kasus ini bersifat
personal atau sistematis?
Legitimasi hasil pemilu
Selain berdampak merosotnya kepercayaan publik, langsung atau tidak,
hampir dipastikan memengaruhi bobot dan legitimasi hasil Pemilu 2019. Dikatakan
demikian karena, salah satu prasyarat hasil pemilu memiliki legitimasi tentu
tak lepas dari independensi dan profesionalitas penyelenggara pemilu, termasuk
KPU.
Pengaruh kasus ini terhadap legitimasi hasil pemilu tentu amat bergantung
sejauh mana modus operandi skandal memalukan tersebut. Jika sistematik, tentu
akan menjadi preseden bagi demokrasi karena legitimasi hasil pemilu akan
menjadi sorotan publik yang pada gilirannya menggerus legitimasi hasil pemilu.
Sebaliknya, jika ini bersifat personal, tentu dampaknya tak begitu besar
bagi legitimasi hasil pemilu. Meski begitu, juga tak bisa disimpulkan kemudian
bahwa tak memiliki efek tehadap hasil pemilu. Pendek kata, dampaknya pasti ada,
hanya tidak signifikan dalam memengaruhi legitimasi hasil pemilu. Peristiwa
memalukan ini tentu mencederai demokrasi sekaligus mencoreng wajah seluruh
jajaran penyelenggara pemilu dari tingkat pusat hingga tingkat paling
bawah.
Filosof Frans Magnis Suseno dalam
bukunya Etika Politik, Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern membuat
semacam patokan soal legitimasi negara bahwa setidaknya negara harus memiliki
pengakuan masyarakat. Pengakuan masyarakat terhadap hukum dan untuk menjamin
keberlakuan hakikat negara. Negara berkuasa karena masyarakat mengakui
kewenangannya. Itu sebabnya, kestabilan negara tergantung dari pengakuan
wewenang oleh masyarakat. Pendek kata, minimnya pengakuan masyarakat, maka
berimplikasi atas legitimasi akan luntur atau sirna.
Padahal merujuk pendapat begawan filsafat tersebut, pemerintahan yang
legitimite mesti memiliki dukungan masyarakat secara luas. Pengakuan masyarakat
terhadap hasil pemilu, oleh sebab itu, menjadi penting dan menentukan terhadap
bobot dan legitimasi pemerintahan. Makin tinggi pengakuan masyarakat terhadap
hasil pemilu maka secara pararel legitimasi pemerintahan juga makin tinggi.
Begitu pula sebaliknya, makin rendah kepercayaan terhadap hasil pemilu juga
berimplikasi makin menurunnya legitimasi pemerintahan hasil pemilu.
Di tengah peristiwa ini, sebaiknya jadi
momentum untuk melakukan evaluasi, pembenahan dan menata sistem sehingga di
satu sisi akan terjadi perbaikan, dan di sisi lain akan berdampak pada
meningkatnya kepercayaan publik pada KPU sekaligus memiliki legitimasi politik
yang kuat sebagai lembaga penyelenggara pemilu yang independen dan profesional.
Dengan demikian, legitimasi hasil pemilu kembali menguat dan dipercaya publik.

















