Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Tuesday, June 26, 2018
Swing Voter Bakal Menjadi Salah Satu Penentu Pemenang Pilkada
JAKARTA -
Perhelatan Pilkada serentak yang akan di gelar besok, Rabu 17 Juni 2018 akan
segera diketahui hasilnya pasangan calon mana yang mendapat kepercayaan dari
rakyat.
Meski demikian, hingga jelang pencoblosan masih banyak
kemungkinan terjadi pergeseran pemilih, terutama swing voter.
“Swing voter akan menjadi salah satu variabel
menentukan kandidat siapa yang akan menang di Pilkada,” ujar pengamat politik
POINT Indonesia Arif Nurul Imam.
Arif mengatakan, apalagi bagi kandidat di Pilkada yang terpaut
angkanya selisih tipis, swing voter akan menjadi variabel
utama siapa yg akan menjadi pemenang seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.
Itu sebabnya, lanjut Arif, yang merasa unggul dalam survei namun
hanya selisih tipis tak boleh jumawa. Sebab, potensi pergeseran pemilih swing
voter masih mungkin terjadi hingga datang ke TPS.
“Swing voter biasanya
kelompok pemilih rasional, sehingga ia akan terus memantau isu-isu hingga
berangkat ke TPS,” pungkas Arif.
Sumber Okezone https://news.okezone.com/read/2018/06/26/337/1914337/swing-voter-bakal-menjadi-salah-satu-penentu-pemenang-pilkada
Friday, June 22, 2018
Kekancan Saklawase
Catatan
Reuni SMP 2 Sentolo
Pada 13 Juni kemarin, kami
mengadakan reuni alumni SMP 2 Sentolo yg kini berganti nama SMP 1 Samigaluh di
Kebun Krisan, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo. Meski hanya satu angkatan 96
dan hanya dihadiri puluhan orang, namun pertemuan awal ini bagi saya bisa dikatakan modal awal untuk melangkah
maju.
Maju dalam arti menjaga dan
merawat perkawanan agar kekancan
saklawase bisa terjaga dan berkesinambungan. Memang hanya puluhan orang
yang hadir, dari 160 orang, namun sebagai acara awal, kegiatan ini bisa disebut
sukses. Selain itu, acara kecil ini juga dihadiri oleh dua guru, yaitu Pak
Mujiharjo yang kini telah pensiun, dan Bu Parjilah.
Reuni menjadi momentum
berharga bukan saja mempertemukan kawan yang lama tak berjumpa, melainkan
memiliki beberapa fungsi. Setidaknya, ada tiga fungsi yang bisa di peroleh dari
acara kumpul-kumpul tersebut.
Pertama, ngumpulke balung
pisah. Di tengah kepadatan dan kesibukan masing-masing, mengumpulkan kawan yang
lama tak jumpa dan berbeda aktivitas tentu tak mudah. Saya melihat ada banyak
kawan yang berjumpa lagi setelah lulus, termasuk saya sendiri. Artinya, ;lebih
dua dasawarsa tak jumpa hingga momentum reuni tersebut.
Karena saking lamanya, tentu
ada banyak perubahan. Baik secara fisik, aktivitas, maupun cara berpikir. Terjadi
metamorphosis sehingga memiliki beragam kesibukan dan identitas yang saya yakin
akan bisa bersinergi untuk saling membesarkan.
Kedua, merajut modal social.
Modal social adalah modal yang kadang tanpa disadari kerap kita abaikan. Padahal
terdapat modal social yang sesungguhnya sangat bermanfaat. Merajut perkawanan
yang lama tak jumpa adalah bagian kerja merajut modal social.
Sosiolog ekonomi asal Jepang
Francis Fukuyama, misalnya membuat tesis bahwa modal social bisa di konversi
menjadi modal ekonomi. Artinya, di kala
kita memiliki modal social sesungguhnya tercipta untuk menciptakan mesin uang
alais pendapatan.
Tentu ini perlu formula,
seraya membaca dan menciptakan peluang
dari modal social yang tersedia. Wujudnya bisa beragam, misalnya, jika ada yang
memproduk barang, setidaknya bisa memanfaatkan jaringan untuk menjadi konsumen,
bahkan marketingnya.
Tentu ada banyak manfaat
yang lain, namun yang pokok dan utama adalah menjaga perkawanan agar bisa
kekancan saklawase.
Dalam forum ini juga
menyepakati untuk menyusun kepanitian, agar ada yang mengelola kegiatan reuni
tahun selanjutnya. Saudara Edi Sujarwo di beri tanggung jawab sebagai Ketua, Bu
Camat atau Bu Prima di dapuk sebagai sekretaris dan seleb kenamaan mbak Ririeh
di beri tanggung jawab sebagai bendahara. Ini tentu sekadar untuk memudahkan
berkoordinasi bukan bersifat keorganisasian formal.
Dari percakapan di grup
maupun secara langsung, ada banyak profesi dari kawan-kawan alumni, ada yang
jadi guru, polisi, tentara, dokter, perajin tas., produsen jamu, seniman,
kontraktor, peternak, sopir, dll. Ini tentu profesi yang beragam yang
menjanjikan jika bisa di sinergikan. Entahlah
Gumaya Hotel Semarang, 22 Juni 2018
Monday, May 28, 2018
Caleg Mantan Napi Koruptor Virus Demokrasi
POLITIK SENIN, 28 MEI 2018 , 14:35:00 WIB
| LAPORAN: FAJAR SIDIK
SUPRIADI
RMOLJabar. Pengamat Politik POINT Indonesia Arif
Nurul Imam mengatakan penolakan usulan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait
larangan mantan narapidana kasus korupsi menjadi calon anggota
legislatif(caleg) oleh partai politik patut dikritisi. Sebab, caleg mantan narapidana
korupsi hampir dipastikan memiliki cacat integritas.
"Caleg mantan narapidana korupsi merupakan virus demokrasi karena cacat
integritas.Bagaimana mungkin kita memiliki parlemen yang kredibel jika yang
maju menjadi caleg adalah mantan koruptor," ujarnya, Senin (28/5).
Seharusnya, kata Arif, usulan KPU tersebut didukung oleh semua kalangan. Apalagi
di tengah buruknya citra dan kinerja parlemen. "Di tengah situasi buruknya
kinerja dan citra parlemen, penolakan caleg narapidana koruptor adalah langkah
progresif untuk mendongkrak kepercayaan publik kepada parlemen," ucapnya.
Bahkan aturan tersebut dapat mendorong lahirnya legislator yang memiliki
integritas dan komitmen terhadap kepentingan publik. "Usulan seperti ini
pantas didorong," ungkapnya.
Menurutnya, wacana larangan mantan napi kasus korupsi menjadi caleg dapat
diterapkan bagi calon presiden dan calon wakil presiden. Hal itu sebagaimana
diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. "Dari semua
partai yamg ada di Parlemen, hanya PKB, PKS, dan Hanura yang sepakat dengan
wacana KPU tersebut," pungkasnya. [bon]
Friday, May 25, 2018
Tim Sukses Optimistis Elektabilitas Sudirman-Ida Naik Pesat
KONTRIBUTOR SEMARANG, NAZAR NURDIN Kompas.com - 23/05/2018, 18:49 WIB
Sudirman Said saat bersama dengan para guru honorer di Kebumen, Selasa (15/5/2018).(Dok. Sudirman Said)
SEMARANG, KOMPAS.com - Tim sukses pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah
terus bergerak untuk meningkatkan elektabilitas calonnya di Pilkada Jawa
Tengah. Tim sukses optimistis di sisa waktu menjelang pemilihan pada 27 Juni
2018, elektabilitas pasangan Sudirman-Ida meningkat pesat.
"Kami masih optimistis
karena masih ada waktu. Kami juga punya survei (internal) sendiri untuk acuan.
Tren paslon terus naik," ujar Sekretaris DPD Gerindra Jawa Tengah,
Sriyanto Saputro, saat dihubungi, Rabu (23/5/2018).
Ia mengatakan, partainya bersama koalisi terus bergerak di semua wilayah
untuk memperkuat basis dukungan. Relawan juga diklaim terus bergerak ke desa-desa
untuk memenangkan Sudirman-Ida. "Kita terus menggerakkan mesin partai
koalisi, relawan. Paslon juga terus ke bawah, terutama di bulan Ramadhan ini
makin intensif," tuturnya.
Analis politik Point Indonesia Arif Nurul Imam mengatakan, hasil
berbagai survei menyebut, paslon Ganjar-Taj Yasin masih unggul, namun bukan
berarti peluang Sudirman-Ida sama sekali tidak ada.
Arif menilai tren elektabilitas petahana menurun, sementara tren
penantang makin meningkat. “Kuncinya sejauh mana akselerasi elektabilitas
Sudirman-Ida bisa didongkrak sejalan dengan kian dekatnya waktu pencoblosan.
Jika terjadi akselerasi elektabilitas massif, maka potensi mengalahkan Ganjar
masih terbuka,” katanya, Selasa (22/5/2018).
Pilkada Jateng Dinilai Representasi Pertarungan Politik Nasional
Rabu, 23 Mei 2018 - 11:51 WIB
views: 3.487
Pasangan calon gubernur-wakil
gubernur Jateng nomor urut 1 Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dan nomor urut 2
Sudirman Said-Ida Fauziyah tampil dalam acara Kandidat Berbicara di Hotel
Gumaya, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/3/2018). Foto dok. SINDOnews.co
YOGYAKARTA- -
Pilkada Jawa Tengah (Jateng) yang hanya diikuti dua pasangan calon benar-benar
ajang pertarungan politik besar menjelang pemilu legislatif dan pemilihan
presiden. Tidak bisa dipungkiri, mumculnya dua pasangan calon merupakan
representasi pertarungan politik nasional.
“Pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang didukung PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, dan Demokrat tak bisa dinafikkan merupakan calon yang digadang-gadang kubu Presiden Jokowi. Sementara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah yang diusung oleh Partai Gerindra, PKB, PKS dan PAN merupakan paslon yang diharapkan menang oleh kelompok Prabowo,” ujar analis politik POINT Indonesia Arif Nurul Imam, Rabu (23/5/2018).
Dijelaskannya, Pilkada Jateng memiliki nuansa berbeda. Meskipun terlihat landai dan terkesan adem ayem, namun terjadi perang head to head sehingga tensi politiknya tak kalah panas dengan laga pilkada di tempat lain. Apalagi, lanjut dia, Jateng merupakan pemasok lumbung suara terbesar ketiga secara nasional setelah Jawa Barat, dan Jawa Timur. "Memang di akar rumput nampak kondusif, tetapi di level elit nasional akan menjadi pertaruhan karena besarnya jumlah pemilih,” tuturnya.
“Pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang didukung PDI-P, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, dan Demokrat tak bisa dinafikkan merupakan calon yang digadang-gadang kubu Presiden Jokowi. Sementara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah yang diusung oleh Partai Gerindra, PKB, PKS dan PAN merupakan paslon yang diharapkan menang oleh kelompok Prabowo,” ujar analis politik POINT Indonesia Arif Nurul Imam, Rabu (23/5/2018).
Dijelaskannya, Pilkada Jateng memiliki nuansa berbeda. Meskipun terlihat landai dan terkesan adem ayem, namun terjadi perang head to head sehingga tensi politiknya tak kalah panas dengan laga pilkada di tempat lain. Apalagi, lanjut dia, Jateng merupakan pemasok lumbung suara terbesar ketiga secara nasional setelah Jawa Barat, dan Jawa Timur. "Memang di akar rumput nampak kondusif, tetapi di level elit nasional akan menjadi pertaruhan karena besarnya jumlah pemilih,” tuturnya.
Thursday, May 24, 2018
Romantisme Orde Baru Selewat Dua Dekade Reformasi
ARIF NURUL IMAM Kompas.com - 22/05/2018, 19:12 WIB
Analis Politik POINT Indonesia dan Direktur Program Sosmed Society. Selain itu, aktif di Sanggar MAOS TRADISI, dan Wasekjen Pergerakan Indonesia.
Logo 20 tahun reformasi(Dok KOMPAS)
Analis Politik POINT Indonesia dan Direktur Program Sosmed Society. Selain itu, aktif di Sanggar MAOS TRADISI, dan Wasekjen Pergerakan Indonesia.
Logo 20 tahun reformasi(Dok KOMPAS)
Pada bulan Mei ini terjadi berbagai kegiatan untuk merayakan dua dekade tumbangnya
Orde Baru. Berbagai eksponen menggelar aneka rupa perhelatan seperti seminar,
diskusi, pameran foto atau kegiatan lainnya untuk mengenang peristiwa politik
yang bersejarah bagi perjalanan republik
ini, dimana kita memasuki babak politik baru, yaitu era reformasi
Reformasi
sebagai koreksi terhadap rezim Orde Baru telah melahirkan berbagai capain
positif. Sebut saja, kebebasan pers, kebebasan berserikat, otonomi daerah dan
liberalisasi politik. Tak heran jika kita dinobatkan sebagai Negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia. Namun demikian, harus diakui pula reformasi juga
masih memiliki beban sejarah, dimana masih banyak agenda yang belum
terealisasikan, untuk tidak mengatakan terlupakan.
Persolaan
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme(KKN), kesenjangan serta kepincangan social,
kemiskinan dan tumpukan persoalan lain masih menjadi pekerjaan rumah hingga dua
dekade reformasi .
Di
wilayah politik misalnya, berbagai persoalan, seolah menjadi penyakit kronis
yang sulit memeroleh resep mujarab. Persoalan buruknya pengelolaan parpol,
maraknya money politik, mewabahnya dinasti politik dan permasalahan lain adalah
potret buram wajah politik dewasa ini.
Sunday, April 8, 2018
Menakar Kriteria Ideal Cawapres Jokowi
Kompas.com - 07/04/2018
ARIF NURUL IMAM (Analis Politik POINT Indonesia dan Direktur Program Sosmed Society. Selain itu, aktif di Sanggar MAOS TRADISI, dan Wasekjen Pergerakan Indonesia)
Ilustrasi kandidat cawapres(KOMPAS/DIDIE SW)
Joko
Widodo ( Jokowi) hampir dipastikan bakal maju lagi dalam laga kontestasi
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Kepastian ini bisa dilihat setidaknya dari
soal dukungan partai politik (parpol) di parlemen seperti PDI Perjuangan,
Golkar, Nasdem, dan Hanura, serta bonus dukungan dari parpol baru yaitu Partai
Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo).
Selain itu, dibentuknya tim internal untuk
mencari dan menyeleksi calon wakil presiden ( cawapres) yang dikomandani
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno juga makin menguatkan sinyalemen
politik tersebut.
Cawapres Jokowi menjadi tema perbincangan
menarik bukan saja karena dia akan menjadi orang kedua yang akan
mendampingi presiden dalam menjalankan roda pemerintahan. Lebih dari itu,
secara politis, menjadi cawapres Jokowi juga bisa dimaknai sebagai investasi
politik sekaligus bisa menjadi karpet merah untuk mengorbit sebagai capres
dalam Pilpres 2024. Tentu, bila kemenangan diraih pada 2019.
Hal ini
bisa dipahami, karena Jokowi sebagai petahana memiliki sumber daya politik yang
besar sehingga menjadi magnet bagi para tokoh politik untuk bisa dipinang
sebagai cawapres. Kondisi politik semacam ini hampir dipastikan dipahami semua
parpol dan tokoh politik sehingga perebutan menjadi cawapres Jokowi tidak saja
penuh kasak-kusuk tetapi juga bakal muncul beragam manuver.
Kriteria ideal
Memilih
cawapres tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, pemilihan bukan
hanya mengkalkulasi persoalan sejauh mana misalnya pengalaman, kompetensi, dan
integritas, melainkan juga mesti memperhitungkan dukungan parpol selain daya
ungkit elektabilitas. Oleh karenanya, sudah pasti akan ada kerumitan serta
berbagai konflik kepentingan yang bakal mengitari.
Penunjukan Mensesneg Pratikno sebagai ketua tim
internal untuk mencari cawapres tentu telah dengan perhitungan matang.
Penunjukan ini kemungkinan karena didasari oleh dua hal. Pertama, lantaran
Pratikno bukan orang parpol yang diharapkan dapat bekerja bebas dari
kepentingan serta independen dalam memilih cawapres. Kedua, karena Pratikno
merupakan orang dekat Jokowi sehingga lebih memahami keinginan dan harapannya.
Dengan demikian, ia diharapkan bisa memberikan
pertimbangan-pertimbangan dan seleksi yang tidak sekadar menyodorkan sosok
tokoh cawapres yang tidak hanya menarik secara politis tetapi juga menimbang
perihal integritas, rekam-jejak, serta persoalan komitmen kebangsaan.
Karena itu, paling tidak ada tiga
kriteria yang layak di pertimbangkan sebagai dasar memilih cawapres bagi
Jokowi.
Pertama, memahami tantangan zaman.
Tokoh yang dipilih tentu harus memiliki wawasan
ke depan, khususnya untuk periode 2019-2024 adalah bagaimana Indonesia
diproyeksikan. Misalnya, soal ledakan informasi, tren ekonomi-politik
global, fenomena milenial, dan lainnya. Ini karena tantangan ke depan
bukan makin mudah, melainkan kian pelik dan rumit, sehingga membutuhkan cawapres
yang peka terhadap tantangan zaman. Sosok cawapres demikian tentu akan menjadi
nilai plus serta menambal kekurangan dalam menjalankan roda kepemimpinan jika
nanti terpilih.
Kedua, kepemimpinan.
Kebutuhan ideal mengenai sosok cawapres dilihat
dari pengalaman, integritas, dan chemistry, merupakan kriteria yang tak bisa
dinafikan. Ini karena kepemimpinan efektif tidak akan lahir dari pasangan yang
dipaksakan, tetapi karena memahami pengalaman, integritas, dan memiliki
persamaan pandangan.
Dengan demikian, harapannya akan terjadi duet
kepemimpinan yang saling mengisi dan bisa bersinergi dalam mewujudkan cita-cita
founding father. Betapa gaduhnya, jika misalnya presiden dan wakil presiden
kerap tidak sejalan sehingga menciptakan pemerintah yang tidak efektif.
Karena itu, soal pengalaman, integritas, dan
chemistry mesti menjadi pertimbangan sehingga bisa melahirkan kepemimpinan yang
efektif bekerja melayani masyarakat.
Ketiga, kebutuhan politis.
Dengan tingkat elektabilitas di kisaran 50
persen sebagaimana dirilis oleh berbagai lembaga survei, Jokowi tentu belum
bisa dikatakan aman. Namun, cawapres yang dipilih tetap tidak boleh hanya
dilihat dari kebutuhan ideal tetapi juga punya daya ungkit elektabilitas
sebagai vote getter mendulang dukungan pemilih.
Sosok cawapres yang dipilih harus dipastikan
dapat menambah dukungan suara dan memperbesar ceruk suara. Ia bisa dari tokoh
parpol atau tokoh non-parpol tetapi mesti sosok yang marketable sehingga
menambah nilai jual dalam menggandakan dukungan.
Ketiga kebutuhan tersebut hendaknya menjadi
paket yang tak bisa dipisahkan sehingga tidak saja menguntungkan secara politis
bagi Jokowi tetapi juga bermanfaat bagi publik. Dengan demikian, sosok cawapres
Jokowi tak sekadar relevan secara politis, tetapi juga menjawab tantangan
bangsa-negara ke depan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menakar Kriteria Ideal Cawapres Jokowi", https://nasional.kompas.com/read/2018/04/07/18545101/menakar-kriteria-ideal-cawapres-jokowi.
Editor : Palupi Annisa Auliani
Wednesday, March 21, 2018
Pengamat: Balas Kritikan dengan Kinerja, Tak Perlu Reaktif
Rico Afrido Simanjuntak
views: 8.454
JAKARTA - Pengamat politik Point Indonesia
Arif Nurul Imam mengatakan, kritik Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat
Nasional (PAN) Amien Rais terhadap program bagi-bagi sertifikat tanah tidak
perlu direspons reaksioner.
Sebab kata Arif, kritik merupakan hal yang lumrah di alam
demokrasi. "Kritik Amien Rais terhadap pemerintah tak perlu ditanggapi
reaksioner, pemerintah cukup membuktikan dengan kerja bahwa program sertifikasi
akan bermanfaat bagi masyarakat," kata Arif kepada SINDOnews, Rabu
(21/3/2018).
Arif menjelaskan, kritik di alam demokrasi merupakan hal wajar
dan lumrah. Maka itu kata dia, pemerintah tidak usah menanggapi dengan lontaran
yang arogan karena tak akan produktif dan hanya menyulut polemik.
"Polemik Amin Rais dengan Menko Maritim Luhut Panjaitan tak
produktif, hanya menimbulkan kegaduhan," ujarnya.
Sebelumnya, Amien Rais mengatakan program bagi-bagi sertifikat
tanah itu pengibulan karena ada 74 persen tanah di negeri ini dikuasai kelompok
tertentu, pemerintah diam saja. Penguasaan tanah yang luar biasa luas itu
seolah dibiarkan.
Lalu, Luhut Panjaitan pun beraksi keras menyikapi kritikan Amien
Rais itu. "Jangan asal kritik saja. Saya tahu trackrecord-mu
kok. Kalau kau merasa paling bersih kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok,
ya sudah diam sajalah. Tapi jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari
dosamu kok. Emang kau siapa?" ujar Luhut.
(maf)
Sumber SINDO https://nasional.sindonews.com/read/1291438/12/pengamat-balas-kritikan-dengan-kinerja-tak-perlu-reaktif-1521617233
Peta Karakter Pendukung Jokowi Menghadapi Pilpres
Oleh Arif Nurul Imam (Analis Politik POINT Indonesia) pada hari Rabu, 21 Mar 2018
Sumber foto : Istimewa
Arif Nurul Imam (Analis Politik POINT Indonesia)
Perhelatan Pilpres 2019 tinggal dalam hitungan belasan bulan. Para tokoh politik yang hendak maju tentu telah pasang kuda-kuda untuk menyiapkan strategi dan langkah pemenangan. Tak terkecuali perihal konsolidasi meraup dukungan elektoral.
Petahana Presiden Joko Widodo hampir dipastikan bakal maju lagi, setelah mendapatkan tiket dukungan parpol parlemen. Seperti Nasdem, Hanura, Golkar dan PDIP menyatakan akan kembali mengusung dalam perhelatan politik 2019. Artinya, di lihat dari persyaratan administrasi dukungan parpol, karena itu Jokowi lebih dari cukup untuk maju dalam laga Pilpres.
Sebagaimana publik saksikan, simpul-simpul pendukung Jokowi telah terlihat oleh publik. Hanya saja karakter simpul pendukung tersebut memiliki motif dan kepentingan yang berbeda, sehingga dukungan tersebut harus dilihat lebih jauh lagi.
Wednesday, March 14, 2018
Penundaan Proses Hukum Calon Kepala Daerah Dinilai Mendegradasi Kualitas Pilkada
Selasa 13 Maret 2018 20:13 WIB
foto: Illustrasi Okezone
JAKARTA - Analis Politik POINT Indonesia Arif Nurul
Imam menilai, rencana pemerintah menunda penyidikan, penyelidikan
terkait calon kepala daerah yang akan ditetapkan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka menjadi preseden buruk.
Sebab, kata Arif, rencana ini justru akan mendorong masyarakat
salah memilih siapa yang layak menjadi kepala daerah, termasuk bebas
dari korupsi.
“Penundaan status tersangka calon kepala daerah justru akan
memperburuk kualitas demokrasi, karena pemilih akan disodori kandidat
yang tidak layak menjadi pemimpin lantaran terlibat skandal korupsi,”
kata Arief, Selasa (13/3/2018).
Menurutnya, pilkada adalah kontestasi untuk melahirkan pemimpin
yang kredibel, pro rakyat, termasuk bebas korupsi. Karena itu, penundaan
ini justru akan memperburuk kualitas Pilkada.
"Penundaan status tersangka calon kepala daerah justru mendegradasi tujuan digelar Pilkada," sambungnya.




















