Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Ini adalah Blog Arif Nurul Imam

"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".

Monday, July 3, 2017

Kasus SMS untuk Jegal Elektabilitas HT


Koran Sindo,   Edisi 20-06-2017

JAKARTA – Tuduhan Jaksa Agung M Prasetyo yang menyebut Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengancam Jaksa Yulianto melalui SMS, diduga terkait Pilpres 2019. Apalagi, elektabilitas HT dan Partai Perindo terus meningkat.

Pakar hukum tata negara Margarito Kamis melihat ada upaya menjatuhkan elektabilitas HT bersama partai besutannya tersebut. ”Jadi, ini kan ditakuti orang (Partai Perindo) bahaya. Makanya harus diisolasi dari sekarang,” ungkap Margarito di Jakarta kemarin. Ditambah lagi HT disebut-sebut sebagai salah seorang yang akan maju pada Pilpres 2019 mendatang.


Belum lama ini Jaksa Agung M Prasetyo dengan sangat arogan menyebut HT sebagai tersangka dalam kasus SMS. Padahal, Polri yang menangani kasus tersebut menyatakan kasus SMS masih dalam tahap penyelidikan dan status HT hanya sebagai saksi terlapor, sehingga banyak kalangan yang menuding tuduhan Jaksa Agung tersebut sangat tendensius yang kental muatan politiknya.


Meski mendapat serangan tersebut, Margarito meyakini bahwa hal itu tidak akan berpengaruh terhadap elektabilitas HT maupun Partai Perindo. ”Umumnya masyarakat kita ini akan simpati kepada mereka yang terzalimi. Kok, ada orang enggak salah tapi disalahsalahin,” ujarnya. ”Dia (Partai Perindo) bak gadis cantik yang dilirik banyak orang.


Dan, itu menjadi ancaman untuk kekuatan-kekuatan politik lain,” tandasnya. Untuk diketahui, sejak dideklarasikan pada 7 Februari 2015, elektabilitas Partai Perindo terus meroket. Hal itu diperkuat lagi dengan dikeluarkannya hasil exit poll terbaru terkait elektabilitas Perindo ini oleh lembaga konsultan politik Pol- Mark, yang menempatkan Perindo pada peringkat 4 besar.


Sekjen DPP Partai Perindo Ahmad Rofiq menganggap tidak tepat pesan singkat (SMS) yang disampaikan oleh HT disebut mengancam. Dia mempertanyakan dasar dari tuduhan pengancaman tersebut jika dikaitkan dengan kapasitas dan kapabilitas HT dan Perindo sebagai pendatang baru di dunia perpolitikan Tanah Air. ”Saat mengirim SMS, kapasitas Pak HT sebagai pimpinan partai baru, belum ada kekuatan apa pun untuk melakukan ancaman ataupun intimidasi.


Kecuali partai ini sudah ada di Senayan, punya kursi banyak, punya menteri banyak, presiden, kalau begitu pasti (wajar) apabila sensitif dan bisa disalahartikan,” ujar Rofiq saat dihubungi semalam. Rofiq meluruskan bahwa SMS yang dikirimkan adalah bentuk komitmen anak bangsa kepada aparat penegak hukum agar selalu bekerja di jalan yang lurus sebagaimana yang telah menjadi kewajibannya.


Menurut dia, aparat penegak hukum juga diingatkan untuk berdiri di semua golongan dan kepentingan. ”Jadi semestinya apa yang dilakukan HT jadi pesan penegak hukum untuk berlaku dan berbuat semaksimal mungkin,” tutur Rofiq. Ketua Umum Pemuda Perindo Effendy Syahputra menilai bahwa kasus SMS HT hanyalah akal-akalan dari Kejaksaan untuk menjegal tren elektabilitas dari Partai Perindo yang tengah melesat.


”Kehadiran Partai Perindo itu tampaknya tak disukai oleh pemerintah. Dengan elektabilitas partai yang makin melonjak, dengan popularitas Hary Tanoe yang terus naik, pemerintah sepertinya tak suka, maka dari itu dibuatlah kasus seperti ini (SMS),” terang Effendy dalam diskusi yang digelar di iNewsTV,Jakarta, kemarin.


Bahkan, jelas Effendy, pemerintah secara politis melihat bahwa kehadiran Partai Perindo akan mengancam dalam pentas demokrasi di Indonesia. ”Jadi seperti dicari-cari kesalahannya, apa nih,supaya elektabilitas Partai Perindo terhenti,” terang Effendy. Di tempat yang sama, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengungkapkan bahwa hukum di Indonesia tak boleh dicampuradukkan dengan politik.


”Ini menjadi catatan tersendiri dalam sejarah hukum di Indonesia, apakah kemudian aparat hukum bisa menyiasati hukum untuk menghukum orang tertentu,” paparnya kemarin. Yang menarik lagi, sambung dia, dugaan manipulasi hukum ini menimpa pada seseorang dengan nama besar seperti HT. Dia mengaku tak bisa membayangkan jika kasus ini terjadi pada rakyat kecil.


”Kemungkinan dia (rakyat kecil) tak bisa melawan yang saat di penjara pun masih belum mengetahui sebenarnya salahnya apa,” papar Hendri. Senada, pengamat hukum pidana Universitas Tarumanegara Herry Firmansyah menilai SMS HT tidak terdapat unsur ancaman. Bahkan Herry mencontohkan, jika ia mengambil sampel 100 orang untuk ditanyakan apakah ada unsur ancaman dalam SMS tersebut, dia meyakini hampir seluruhnya sependapat dengan dirinya, bahwa tak ada unsur ancaman dari SMS tersebut.


”Ancaman itu bisa fisik bisa psikis, lihat (SMS itu) dengan jernih dan dibacakan tanpa emosional. Saya yakin hampir semua orang, jika diambil 100 sampel mungkin 90 atau bahkan 99 orang mengatakan bahwa SMS Pak Hary Tanoe tidak ada unsur ancaman,” jelas Herry. Menurut dia, HT pun menyampaikan pesan berupa kalimat yang mengingatkan ke Jaksa Yulianto, bukan mengancam.


Dan, hal tersebut lumrah dilakukan seorang warga negara kepada pihak penegak hukum. ”Dalam SMS itu, saat menyebut oknum pun Pak Hary Tanoe tidak menyebut secara personal, tapi menggunakan kalimat ‘oknum-oknum yang abuse of power’, sangat sopan menurut saya. Kalimat mengingatkan itu memang ada, yang namanya jabatan itu tidak langgeng, itu suatu proses yang biasa dan lumrah, bukan bentuk ancaman,” papar Herry.


Analis politik Point Indonesia, Arif Nurul Imam, mengatakan Jaksa Agung belakangan menunjukkan kinerja yang tak profesional dan buruk. Apalagi, terkait tudingan terhadap HT yang ternyata hoax. Dikatakan Arif, pernyataan M Prasetyo jelas tidak mencerminkan sebagai penegak hukum; pernyataan politis yang patut diduga punya maksud politis terselubung.

Arif menilai penegak hukum yang bermain politik tentu menjadi preseden buruk bagi wajah penegakan hukum di Tanah Air, sebab posisi Jaksa Agung harus independen dan bekerja profesional, bukan bekerja secara politis. ”Saya kira ini layak jadi bahan evaluasi Presiden Jokowi, apalagi ketika kampanye menjanjikan Jaksa Agung yang bukan berasal dari kader partai sehingga bisa bekerja profesional,” ujarnya.

Jika ingin penegakan hukum bisa berjalan adil, Presiden perlu bertindakcepatdenganmelakukan reshuffle Jaksa Agung. Jika dibiarkan maka bisa berimbas pada kepercayaan publik terhadap pemerintah yang dianggap sebagai rezim yang tak mampu menegakkan keadilan.

Citra Jokowi Semakin Tercoreng Kalau Masih Membiarkan Prasetyo Jadi Jaksa Agung

 
Hukum  SENIN, 19 JUNI 2017 , 05:50:00 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR


RMOL. Jaksa Agung HM Prasetyo semakin menunjukkan dirinya tidak profesional. Bahkan dinilai bermain politik, terlebih terkait laporan anak buahnya terhadap Bos MNC Group yang juga Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoe.

Sebelumnya Jaksa Agung menyatakan Hary Tanoe sudah menjadi tersangka perkara ancaman lewat SMS yang dilaporkan Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto ke Bareskrim Polri.

"Jaksa Agung HM Prasetyo melemparkan pernyataan politis, dengan menyebar kabar hoax bahwa Hary Tanoe telah menjadi tersangka. Ini jelas upaya pembunuhan karakter, sebab faktanya hingga saat ini hanya sebagai saksi," ujar analis politik dari Point Indonesia, Arif Nurul Imam, pagi ini (Senin, 19/6).

Pernyataan HM Prasetyo jelas tidak mencerminkan sebagai penegak hukum, melainkan pernyataan politis yang patut diduga punya maksud politis terselubung. Sebab, Bareskrim Polri hingga saat ini menyatakan Hary Tanoe hanya sebagai saksi, bukan tersangka.

Menurutnya, penegak hukum yang bermain politik menjadi preseden buruk bagi wajah penegakan hukum di Tanah Air. Jaksa Agung harus bekerja secara profesional, lepas dari kepentingan politik manapun. "Saya kira, ini layak jadi bahan evaluasi Presiden Jokowi," ungkapnya.

Apalagi sebenarnya, Presiden Joko Widodo semasa kampanye berjanji akan menempatkan tokoh independen, profesional sebagai Jaksa Agung, bukan berasal dari kader partai. Sementara HM Prasetyo sendiri merupakan politikus Partai Nasdem.

"Jika ingin penegakan hukum bisa berjalan adil, Presiden perlu bertindak cepat dengan melakukan reshuffle Jaksa Agung. Jika dibiarkan, bisa berimbas pada kepercayaan publik terhadap pemerintah yang dianggap sebagai rezim yang tak mampu menegakkan keadilan," tandasnya. [zul]

Sumber: Rakyat Merdeka Online 

http://hukum.rmol.co/read/2017/06/19/296163/Citra-Jokowi-Semakin-Tercoreng-Kalau-Masih-Membiarkan-Prasetyo-Jadi-Jaksa-Agung-

Pernyataan Jaksa Agung Bermotif Politis Terselubung

Selasa, 20 Juni 2017
JAKARTA – Pengamat politik Point Indonesia Arif Nurul Iman mengatakan Jaksa Agung belakangan menunjukkan kinerja yang tak profesional dan buruk. Terbaru, Jaksa Agung M. Prasetyo menuding Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo telah menjadi tersangka dan ternyata informasi itu hoax.
 
Merespons tindakan Jaksa dari kader Partai Nasdem itu, Arif menyatakan, pernyataan M. Prasetyo jelas tidak mencerminkan sebagai penegak hukum. Ia menilai, pernyataan tersebut cenderung politis, sehingga patut diduga punya maksud politis terselubung.

Arif menilai penegak hukum yang bermain politik tentu menjadi preseden buruk bagi wajah penegakan hukum di Indonesia. Sebab menurut pandangannya, posisi Jaksa Agung harus independen dan bekerja secara profesional, bukan bekerja secara politis.

“Saya kira ini layak jadi bahan evaluasi presiden Jokowi, apalagi ketika kampanye menjanjikan Jaksa Agung bukan berasal dari kader partai sehinga bisa bekerja secara profesional,” terang Arif, Senin 19 Juni 2017.

Arief pun meminta, jika presiden ingin penegakan hukum bisa berjalan adil, maka presiden perlu bertindak cepat dengan melakukan reshuffle terhadapJaksa Agung. Jika hal ini dibiarkan maka bisa akan berimbas pada kepercayaan publik terhadap pemerintah yang dianggap sebagai rezim yang tak mampu menegakan keadilan.
(ulu)

Sumber: Okezone

http://news.okezone.com/read/2017/06/20/337/1720405/ketum-perindo-dizalimi-pengamat-nilai-pernyataan-jaksa-agung-bermotif-politis-terselubung 

Thursday, June 22, 2017

Hary Tanoe Dizalimi, Pengguliran Kasus SMS Dinilai Sebagai Upaya Penggembosan Perindo


Rabu, 21 Juni 2017 - 13:37 wib


JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai SMS Ketua Umum (Ketum) Perindo Hary Tanoesoedibjo (Hary Tanoe) ke Jaksa Yulianto bukanlah pesan ancaman. Bahkan pengguliran kasus SMS itu dinilai bernuansa politik.
Pengamat politik dari VoxPol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus SMS Hary Tanoesoedibjoe ke Jaksa Yulianto mungkin merupakan salah satu cara menggembosi kekuatan Partai Perindo dan Hary Tanoe yang tengah menuju puncak elektabilitas menjelang Pemilu seretntak 2019.
Menurut Pangi, sentuhan Ketua Umum Partai Perindo itu telah terbukti memenangkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta. Imbasnya muncul spekulasi bahwa kasus SMS Hary Tanoe dimunculkan kembali setelah berhenti selama 1,5 tahun karena ada unsur politiknya.
Pangi menuturkan, Hary Tanoe berhasil ikut menumbangkan petahana di Pilgub DKI Jakarta dengan berbagai program kerja yang berpihak kepada masyarakat Ibu Kota lewat Partai Perindo.
Sebab itu, ia menilai, kasus yang tengah dilakukan penyelidikan tersebut merupakan aksi balasan dari penguasa kepada Hary Tanoe.
"Sehingga bisa saja melakukan ini (penggembosan Perindo lewat kasus SMS) untuk kepentingan yang menggembosi Partai Perindo, bagaimana kemudian mereka memastikan dengan pembalasan seperti itu," ujarnya kepada Okezone, Rabu (21/6/2017).
Sebelumnya Jaksa Agung HM Prasetyo menyebut Hary Tanoe telah menjadi tersangka kasus SMS. Padahal Mabes Polri menyatakan Hary Tanoe baru sebatas saksi terlapor. Kontan pernyataan Jaksa Agung tersebut dinilai bermuatan politis.
“Jaksa Agung HM Prasetyo melemparkan pernyataan politis, dengan menyebar kabar hoax bahwa Hary Tanoe telah menjadi tersangka. Ini jelas upaya pembunuhan karakter, sebab faktanya hingga saat ini hanya sebagai saksi,” ujar Arif Nurul Imam Analis Politik Point Indonesia.
Sementara hukum Hary Tanoe Adidharma Wicaksono menilai kliennya telah dizalimi pakai kasus ini. Menurutnya tak mungkin Hary Tanoe mengancam, sebab kliennya itu tidak punya kekuasaan, jabatan, dan power untuk mengancam petinggi negara.
(abp)

Wednesday, June 14, 2017

Demokrasi Berkutat pada Tataran Framing

KORAN SINDO, Edisi 14-06-2017


YOGYAKARTA – Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Salah satunya tidak adanya pem belajaran demokrasi secara riil.

Semua masih berkutat pada ta taran framing tanpa mengedepankan substansi demokrasi. Pengamat politik UGM, Arie Sujito mengungkapkan, fenomena politik dewasa ini kian men cemaskan. Isu politik saat ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat. “Ru ang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak substansial. Isu-isu publik jarang di perdebatkan secara serius guna mencari jalan keluar,” ungkapnya saat diskusi publik di Sanggar Maos Tradisi, akhir pekan lalu.

Menurutnya, demokrasi Indonesia juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu substansial. Hal senada disampaikan aktivis politik, Heri Begi. Menurutnya, perkembangan de mokrasi saat ini mirip demokrasi hypermarket . Demokrasi se macam ini akan memunculkan plasma-plasma politik, seperti ormas, tokoh, dan lainnya. “Persoalan demokrasi harus benar-benar dikupas ulang untuk kembali ke persoalan riil di masyarakat,” katanya.

Sementara pengamat politik Arif Nurul Imam memaparkan pentingnya memanfaatkan kema juan teknologi, terutama me dia sosial (medsos) sebagai sarana mengonsolidasikan gagasan-gagasan yang bisa menjadi pressure kebijakan. Sosmed me nurutnya bisa menjadi peranti untuk menggerakkan perubahan. “Sosmed bisa digunakan untuk menggalang dukungan publik,” kata mantan staf ahli ketua DPD ini. Tidak hanya itu, keberadaan sosmed juga bisa dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi substansial.

“Demokrasi juga harus peka jaman, ada era baru, yaitu sosmed yang bisa digunakan untuk mengurai gagasan substansial. Ajakan ke arah persoalan riil juga harus dilakukan melalui teknologi informasi,” kata Arif.

Suharjono http://koran-sindo.com/page/news/2017-06-14/5/5/Demokrasi_Berkutat_pada_Tataran_Framing

Friday, June 9, 2017

Demokrasi Menghadapi Sejumlah Tantangan

 Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Tantangan seperti, ledakan informasi, social media, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi subtansial.
Melihat kondisi ini, Sanggar Maos Tradisi Yogyakarta meenggelar diskusi publik dengan mengusung tema "Membaca Perkembangan Baru Demokrasi" Rabu(7/6). Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Hari Begi(Aktivis Politik dan Arif Nurul Imam(Peneliti Politik).
Acara dimulai dengan pidato politik oleh Arie Sujito(Pengamat Politik UGM) yang membeberkan fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan.  "Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat," ujarnya.

Demokrasi kita, kata Arie, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar. Masalah lainnya, demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu subtansial.

Sementara itu, Hari Bagi memaparkan bahwa perkembangan demokrasi hari ini mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini kemudian memmunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya. 

Arif Nurul Imam menjelaskan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan public. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam menggalang dukungan public. Selain itu social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial.

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 2017

Demokrasi Kita Sedang Menghadapi Sejumlah Tantangan

POLITIK  KAMIS, 08 JUNI 2017 , 06:26:00 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR


RMOL. Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Tantangan seperti, ledakan informasi, social media, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi subtansial.

Hal itu menjadi sorotan diskusi "Membaca Perkembangan Baru Demokrasi" yang digelar Sanggar Maos Tradisi Yogyakarta kemarin. Hadir sebagai pembicara aktivis politik, Hari Begi dan peneliti politik, Arif Nurul Imam.

Acara dimulai dengan pidato politik oleh dosen UGM, Arie Sujito.

Dalam pidatonya, pengamat politik ini membeberkan mengenai fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan.  "Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat," ungkapnya.

Demokrasi kita, kata Arie, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar.

"Masalah lainnya, demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu subtansial," sambungnya.

Sementara itu, Hari Bagi memaparkan bahwa perkembangan demokrasi hari ini mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini kemudian memmunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya.

Sedangkan Arif Nurul Imam menjelaskan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan public. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam menggalang dukungan public.

"Selain itu social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial," tandasnya. [zul]
Sumber: Rakyat Merdeka Online

Wah.. Ini Tantangan Mewujudkan Demokrasi yang Substansial

YOGYAKARTA - Ledakan informasi, media sosial, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi substansial. Merujuk pada kondisi ini, Sanggar MaosTradisi Yogyakarta menggelar diskusi public (7/052017) bertajuk“Membaca Perkembangan Baru Demokrasi”.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Hari Begi, aktivis politik dan Arif Nurul Imam, peneliti politik.
Dimulai dengan pidato politik oleh Arie Sujito, pengamat politik UGM. Ia membeberkan fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan.
“Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat,” ujarnya, Rabu (7/6/2017).
Arie menambahkan, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Ia menilai, isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar.
Selain itu, masalah lainnya ialah demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis serta meminggirkan isu subtansial.
Sementara aktivis politik, Hari Bagi memaparkan mengenai perkembangan demokrasi hari ini yang mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini, lanjut dia, kemudian memeunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya.
“Penting untuk memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan publik. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam
menggalang dukungan public. Social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial,” tandas pemateri lain, Arif Nurul Imam. (sym)
Sumber: Okezone
http://news.okezone.com/read/2017/06/07/510/1710282/wah-ini-tantangan-mewujudkan-demokrasi-yang-substansial

Thursday, June 1, 2017

Tantangan Mewujudkan Janji Kampanye Anies-Sandi

Selasa , 30 May 2017, 14:30 WIB

Red: Heri Ruslan
dok pri  Arif Nurul Imam, Peneliti Politik POINT Indonesia.

Oleh: Arif Nurul Imam
(Analis Politik POINT INDONESIA)

REPUBLIKA.CO.ID, -- Pilkada DKI Jakarta telah usai digelar dengan meninggalkan sejumlah jejak dan catatan. Secara umum Pilkada ini bisa dikatakan berjalan lancar, meski harus diakui masih banyak catatan kritis yang berlangsung selama hajat demokrasi ini.

Berdasar hasil rekapitulasi penghitungan suara KPU DKI Jakarta (30/4/2017), pasangan calon nomor pemilihan tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan sebagai pemenang Pilkada putaran kedua dengan 57,96 persen suara. Adapun pasangan nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat memeroleh 42,04 persen suara.
   
Meski sebelumnya muncul sejumlah kekhawatiran seperti konfik horizontal, kita patut mengapresiasi kepada semua stakeholder Pilkada, terutama warga Jakarta karena Pilkada ini bisa berjalan dengan aman. Namun demikian, diakui atau tidak, Pilkada ini juga menyisakan sejumlah persoalan, terutama bagaimana kembali merajut kehidupan sosial agar berjalan normal dan harmonis.

Selain itu, peristiwa politik paling akbar sepanjang tahun 2017 ini, juga membukukan catatan positif. Setidaknya, hal ini bisa dilihat dari tingkat partisipasi diputaran kedua yang mencapai angka 78 persen dengan 5.661.895 pengguna hak pilih, melebihi angka partisipasi secara nasional.

Pasangan Anies-Sandi yang mengusung tagline “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” tentu memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan janji kampanye pasca dinyatakan KPU DKI sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.

Di tengah keretakan sosial akibat persaingan dalam kontestasi pilkada, tugas pertama dan utama adalah bagaimana merajut kohesi sosial, dengan demikian, kehidupan warga bisa kembali berjalan normal serta harmonis. Persaingan politik yang keras dalam Pilkada kemarin, nampaknya menyisakan sejumlah masalah sosial yang harus di antisipasi sebagai basis pijak menyusun program kerja untuk memenuhi janji kampanye.

Janji kampanye tak boleh dianggap sekadar main-main, melainkan mesti menjadi komitmen Anies-Sandi untuk diwujudnyatakan ketika menjabat. Sebab, janji kampanye bukan sekadar lipstik untuk meraih dukungan, melainkan sebuah komitmen untuk mewujudkan harapan warga. Janji kampanye harus dipahami sebagai sebuah kontrak politik antara kandidat dengan warga yang menitipkan aspirasi yang diterjemahkan dalam bentuk program kerja ketika mengemban amanah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Membangun kota metropolitan Jakarta memang dipastikan bakal menjumpai aneka kerumitan dan beragam tantangan yang tak mudah. Sebagai Ibukota, Jakarta adalah kota yang memiliki 1001 kepentingan. Bukan hanya kepentingan publik yang justru seringkali diabaikan, melainkan pula kepentingan para pemodal besar, elit politik nasional, dan kelompok pemburu rente lainnya.

Saturday, May 13, 2017

Kelas Menengah


Sekitar lima tahun lalu, seraya menyusuri perjalanan pulang, saya bersama Bang Faisal Basri sempat diskusi mengenai fenomena lonjakan kelas menengah di Indonesia. Karena dia nyetir dan agak ngantuk maka minta saya untuk terus ajak ngobrol agar menghilangkan rasa kantuk.
Nah, meski lelah dan ngantuk, untuk membuka perdebatan saya lemparkan pertanyaan yg agak berat. Pertanyaannya, mengapa jumlah kelas menengah yg besar tak berkorelasi positif dengan kesadaran politik?.
Dari situ dia menjelaskan bahwa kelas menengah itu ada 2 macam, yakni kelas menengah yang hanya dilihat dari tingkat pendapatan saja, dan kelas menengah yang memiliki kesadaran ideologis. Dalam bahasa dia, kelas menengah ideologis ini disebut sebagai strata menengah karena bukan hanya memikirkan survival, melainkan juga perubahan.
Jadi, tak bisa gebyah-uyah atau pukul rata. Jangan berharap kelas menengah mesti memiliki visi perubahan, karena acapkali hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan kadang hanya menyisakan onggokan kebisingan :)
Selanjutnya, saya pun terlelap hingga tiba sampai tujuan. :)

SUMBER: Status Facebook 13 Mei 2017