http://hukum.rmol.co/read/2017/06/19/296163/Citra-Jokowi-Semakin-Tercoreng-Kalau-Masih-Membiarkan-Prasetyo-Jadi-Jaksa-Agung-
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Orang Boleh Pandai Setinggi Langit Tapi Selama ia Tidak Menulis Ia akan hilang didalam Masyarakat dan Sejarah. Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Ini adalah Blog Arif Nurul Imam
"Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian".
Monday, July 3, 2017
Citra Jokowi Semakin Tercoreng Kalau Masih Membiarkan Prasetyo Jadi Jaksa Agung
RMOL. Jaksa Agung HM Prasetyo semakin menunjukkan dirinya
tidak profesional. Bahkan dinilai bermain politik, terlebih terkait
laporan anak buahnya terhadap Bos MNC Group yang juga Ketua Umum DPP
Partai Perindo Hary Tanoe.
Sebelumnya Jaksa Agung menyatakan Hary Tanoe sudah menjadi
tersangka perkara ancaman lewat SMS yang dilaporkan Kepala Subdirektorat
Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto ke Bareskrim Polri.
"Jaksa
Agung HM Prasetyo melemparkan pernyataan politis, dengan menyebar kabar
hoax bahwa Hary Tanoe telah menjadi tersangka. Ini jelas upaya
pembunuhan karakter, sebab faktanya hingga saat ini hanya sebagai
saksi," ujar analis politik dari Point Indonesia, Arif Nurul Imam, pagi
ini (Senin, 19/6).
Pernyataan HM Prasetyo jelas tidak
mencerminkan sebagai penegak hukum, melainkan pernyataan politis yang
patut diduga punya maksud politis terselubung. Sebab, Bareskrim Polri
hingga saat ini menyatakan Hary Tanoe hanya sebagai saksi, bukan
tersangka.
Menurutnya, penegak hukum yang bermain politik menjadi
preseden buruk bagi wajah penegakan hukum di Tanah Air. Jaksa Agung
harus bekerja secara profesional, lepas dari kepentingan politik
manapun. "Saya kira, ini layak jadi bahan evaluasi Presiden Jokowi,"
ungkapnya.
Apalagi sebenarnya, Presiden Joko Widodo semasa
kampanye berjanji akan menempatkan tokoh independen, profesional sebagai
Jaksa Agung, bukan berasal dari kader partai. Sementara HM Prasetyo
sendiri merupakan politikus Partai Nasdem.
"Jika ingin penegakan hukum bisa berjalan adil, Presiden perlu bertindak cepat dengan melakukan reshuffle Jaksa
Agung. Jika dibiarkan, bisa berimbas pada kepercayaan publik terhadap
pemerintah yang dianggap sebagai rezim yang tak mampu menegakkan
keadilan," tandasnya. [zul]
http://hukum.rmol.co/read/2017/06/19/296163/Citra-Jokowi-Semakin-Tercoreng-Kalau-Masih-Membiarkan-Prasetyo-Jadi-Jaksa-Agung-
Pernyataan Jaksa Agung Bermotif Politis Terselubung
Selasa, 20 Juni 2017
Sumber: Okezone
http://news.okezone.com/read/2017/06/20/337/1720405/ketum-perindo-dizalimi-pengamat-nilai-pernyataan-jaksa-agung-bermotif-politis-terselubung
JAKARTA – Pengamat politik Point
Indonesia Arif Nurul Iman mengatakan Jaksa Agung belakangan menunjukkan
kinerja yang tak profesional dan buruk. Terbaru, Jaksa Agung M. Prasetyo
menuding Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo telah menjadi
tersangka dan ternyata informasi itu hoax.
Merespons tindakan Jaksa dari kader Partai Nasdem itu, Arif
menyatakan, pernyataan M. Prasetyo jelas tidak mencerminkan sebagai
penegak hukum. Ia menilai, pernyataan tersebut cenderung politis,
sehingga patut diduga punya maksud politis terselubung.
Arif menilai penegak hukum yang bermain politik tentu menjadi
preseden buruk bagi wajah penegakan hukum di Indonesia. Sebab menurut
pandangannya, posisi Jaksa Agung harus independen dan bekerja secara
profesional, bukan bekerja secara politis.
“Saya kira ini layak jadi bahan evaluasi presiden Jokowi, apalagi
ketika kampanye menjanjikan Jaksa Agung bukan berasal dari kader partai
sehinga bisa bekerja secara profesional,” terang Arif, Senin 19 Juni
2017.
Arief pun meminta, jika presiden ingin penegakan hukum bisa berjalan adil, maka presiden perlu bertindak cepat dengan melakukan reshuffle
terhadapJaksa Agung. Jika hal ini dibiarkan maka bisa akan berimbas
pada kepercayaan publik terhadap pemerintah yang dianggap sebagai rezim
yang tak mampu menegakan keadilan.
(ulu)
Sumber: Okezone
http://news.okezone.com/read/2017/06/20/337/1720405/ketum-perindo-dizalimi-pengamat-nilai-pernyataan-jaksa-agung-bermotif-politis-terselubung
Thursday, June 22, 2017
Hary Tanoe Dizalimi, Pengguliran Kasus SMS Dinilai Sebagai Upaya Penggembosan Perindo
Rabu, 21 Juni 2017 - 13:37 wib
JAKARTA - Sejumlah kalangan menilai SMS Ketua Umum (Ketum) Perindo Hary Tanoesoedibjo (Hary Tanoe) ke Jaksa Yulianto bukanlah pesan ancaman. Bahkan pengguliran kasus SMS itu dinilai bernuansa politik.
Pengamat politik dari VoxPol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus SMS Hary Tanoesoedibjoe ke Jaksa Yulianto mungkin merupakan salah satu cara menggembosi kekuatan Partai Perindo dan Hary Tanoe yang tengah menuju puncak elektabilitas menjelang Pemilu seretntak 2019.
Menurut Pangi, sentuhan Ketua Umum Partai Perindo itu telah terbukti memenangkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta. Imbasnya muncul spekulasi bahwa kasus SMS Hary Tanoe dimunculkan kembali setelah berhenti selama 1,5 tahun karena ada unsur politiknya.
Pangi menuturkan, Hary Tanoe berhasil ikut menumbangkan petahana di Pilgub DKI Jakarta dengan berbagai program kerja yang berpihak kepada masyarakat Ibu Kota lewat Partai Perindo.
Sebab itu, ia menilai, kasus yang tengah dilakukan penyelidikan tersebut merupakan aksi balasan dari penguasa kepada Hary Tanoe.
"Sehingga bisa saja melakukan ini (penggembosan Perindo lewat kasus SMS) untuk kepentingan yang menggembosi Partai Perindo, bagaimana kemudian mereka memastikan dengan pembalasan seperti itu," ujarnya kepada Okezone, Rabu (21/6/2017).
Sebelumnya Jaksa Agung HM Prasetyo menyebut Hary Tanoe telah menjadi tersangka kasus SMS. Padahal Mabes Polri menyatakan Hary Tanoe baru sebatas saksi terlapor. Kontan pernyataan Jaksa Agung tersebut dinilai bermuatan politis.
“Jaksa Agung HM Prasetyo melemparkan pernyataan politis, dengan menyebar kabar hoax bahwa Hary Tanoe telah menjadi tersangka. Ini jelas upaya pembunuhan karakter, sebab faktanya hingga saat ini hanya sebagai saksi,” ujar Arif Nurul Imam Analis Politik Point Indonesia.
Sementara hukum Hary Tanoe Adidharma Wicaksono menilai kliennya telah dizalimi pakai kasus ini. Menurutnya tak mungkin Hary Tanoe mengancam, sebab kliennya itu tidak punya kekuasaan, jabatan, dan power untuk mengancam petinggi negara.
(abp)
Sumber: Okezone
http://news.okezone.com/read/2017/06/21/337/1721606/hary-tanoe-dizalimi-pengguliran-kasus-sms-dinilai-sebagai-upaya-penggembosan-perindo
http://news.okezone.com/read/2017/06/21/337/1721606/hary-tanoe-dizalimi-pengguliran-kasus-sms-dinilai-sebagai-upaya-penggembosan-perindo
Wednesday, June 14, 2017
Demokrasi Berkutat pada Tataran Framing
KORAN SINDO, Edisi 14-06-2017
YOGYAKARTA – Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Salah satunya tidak adanya pem belajaran demokrasi secara riil.
Semua masih berkutat pada ta taran framing tanpa mengedepankan substansi demokrasi. Pengamat politik UGM, Arie Sujito mengungkapkan, fenomena politik dewasa ini kian men cemaskan. Isu politik saat ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat. “Ru ang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak substansial. Isu-isu publik jarang di perdebatkan secara serius guna mencari jalan keluar,” ungkapnya saat diskusi publik di Sanggar Maos Tradisi, akhir pekan lalu.
Menurutnya, demokrasi Indonesia juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu substansial. Hal senada disampaikan aktivis politik, Heri Begi. Menurutnya, perkembangan de mokrasi saat ini mirip demokrasi hypermarket . Demokrasi se macam ini akan memunculkan plasma-plasma politik, seperti ormas, tokoh, dan lainnya. “Persoalan demokrasi harus benar-benar dikupas ulang untuk kembali ke persoalan riil di masyarakat,” katanya.
Sementara pengamat politik Arif Nurul Imam memaparkan pentingnya memanfaatkan kema juan teknologi, terutama me dia sosial (medsos) sebagai sarana mengonsolidasikan gagasan-gagasan yang bisa menjadi pressure kebijakan. Sosmed me nurutnya bisa menjadi peranti untuk menggerakkan perubahan. “Sosmed bisa digunakan untuk menggalang dukungan publik,” kata mantan staf ahli ketua DPD ini. Tidak hanya itu, keberadaan sosmed juga bisa dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi substansial.
“Demokrasi juga harus peka jaman, ada era baru, yaitu sosmed yang bisa digunakan untuk mengurai gagasan substansial. Ajakan ke arah persoalan riil juga harus dilakukan melalui teknologi informasi,” kata Arif.
Suharjono http://koran-sindo.com/page/news/2017-06-14/5/5/Demokrasi_Berkutat_pada_Tataran_Framing
Friday, June 9, 2017
Demokrasi Menghadapi Sejumlah Tantangan
Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Tantangan seperti, ledakan informasi, social media, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi subtansial.
Melihat kondisi ini, Sanggar Maos Tradisi Yogyakarta meenggelar diskusi publik dengan mengusung tema "Membaca Perkembangan Baru Demokrasi" Rabu(7/6). Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Hari Begi(Aktivis Politik dan Arif Nurul Imam(Peneliti Politik).
Acara dimulai dengan pidato politik oleh Arie Sujito(Pengamat Politik UGM) yang membeberkan fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan. "Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat," ujarnya.Demokrasi kita, kata Arie, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar. Masalah lainnya, demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu subtansial.
Sementara itu, Hari Bagi memaparkan bahwa perkembangan demokrasi hari ini mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini kemudian memmunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya.
Arif Nurul Imam menjelaskan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan public. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam menggalang dukungan public. Selain itu social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial.
Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 2017
Demokrasi Kita Sedang Menghadapi Sejumlah Tantangan
POLITIK KAMIS, 08 JUNI 2017 , 06:26:00 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
RMOL. Proses penguatan demokrasi di tengah kemajuan teknologi kini mengalami sejumlah tantangan. Tantangan seperti, ledakan informasi, social media, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi subtansial.
Acara dimulai dengan pidato politik oleh dosen UGM, Arie Sujito.
Dalam pidatonya, pengamat politik ini membeberkan mengenai fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan. "Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat," ungkapnya.
Demokrasi kita, kata Arie, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar.
"Masalah lainnya, demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis sehingga meminggirkan isu subtansial," sambungnya.
Sementara itu, Hari Bagi memaparkan bahwa perkembangan demokrasi hari ini mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini kemudian memmunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya.
Sedangkan Arif Nurul Imam menjelaskan pentingnya memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan public. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam menggalang dukungan public.
"Selain itu social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial," tandasnya. [zul]
Sumber: Rakyat Merdeka Online
Wah.. Ini Tantangan Mewujudkan Demokrasi yang Substansial
YOGYAKARTA - Ledakan informasi, media sosial, dan ancaman politik identitas menjadi sebuah masalah baru sekaligus tantangan dalam mewujudkan demokrasi substansial. Merujuk pada kondisi ini, Sanggar MaosTradisi Yogyakarta menggelar diskusi public (7/052017) bertajuk“Membaca Perkembangan Baru Demokrasi”.
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber Hari Begi, aktivis politik dan Arif Nurul Imam, peneliti politik.
Dimulai dengan pidato politik oleh Arie Sujito, pengamat politik UGM. Ia membeberkan fenomena politik dewasa ini yang kian mencemaskan.
“Isu politik hari ini sebagian besar hanya framing saja, bukan persoalan riil yang dihadapi masyarakat,” ujarnya, Rabu (7/6/2017).
Arie menambahkan, ruang publik kita hanya dipenuhi perdebatan yang tak subtansial. Ia menilai, isu-isu publik jarang diperdebatkan secara serius dalam mencari jalan keluar.
Selain itu, masalah lainnya ialah demokrasi kita juga terjebak pada masalah detail dan teknokratis serta meminggirkan isu subtansial.
Sementara aktivis politik, Hari Bagi memaparkan mengenai perkembangan demokrasi hari ini yang mirip demokrasi hypermarket. Demokrasi semacam ini, lanjut dia, kemudian memeunculkan plasma-plasma politik seperti, ormas, tokoh, dan lainnya.
“Penting untuk memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama social medial sebagai sarana untuk mengkonsolidasikan gagasan-gagasan yang dapat menjadi pressure kebijakan publik. Social media dapat menjadi piranti untuk menggerakkan perubahan, terutama dalam
menggalang dukungan public. Social media juga dimanfaatkan dalam menguatkan demokrasi subtansial,” tandas pemateri lain, Arif Nurul Imam. (sym)
http://news.okezone.com/read/2017/06/07/510/1710282/wah-ini-tantangan-mewujudkan-demokrasi-yang-substansial
Thursday, June 1, 2017
Tantangan Mewujudkan Janji Kampanye Anies-Sandi
Selasa , 30 May 2017, 14:30 WIB
Red: Heri Ruslan
dok pri
Oleh: Arif Nurul Imam
(Analis Politik POINT INDONESIA)
REPUBLIKA.CO.ID,
-- Pilkada DKI Jakarta telah usai digelar dengan meninggalkan sejumlah
jejak dan catatan. Secara umum Pilkada ini bisa dikatakan berjalan
lancar, meski harus diakui masih banyak catatan kritis yang berlangsung
selama hajat demokrasi ini.
Berdasar hasil rekapitulasi
penghitungan suara KPU DKI Jakarta (30/4/2017), pasangan calon nomor
pemilihan tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan sebagai pemenang
Pilkada putaran kedua dengan 57,96 persen suara. Adapun pasangan nomor
pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat
memeroleh 42,04 persen suara.
Meski sebelumnya muncul
sejumlah kekhawatiran seperti konfik horizontal, kita patut
mengapresiasi kepada semua stakeholder Pilkada, terutama warga Jakarta
karena Pilkada ini bisa berjalan dengan aman. Namun demikian, diakui
atau tidak, Pilkada ini juga menyisakan sejumlah persoalan, terutama
bagaimana kembali merajut kehidupan sosial agar berjalan normal dan
harmonis.
Selain itu, peristiwa politik paling akbar sepanjang
tahun 2017 ini, juga membukukan catatan positif. Setidaknya, hal ini
bisa dilihat dari tingkat partisipasi diputaran kedua yang mencapai
angka 78 persen dengan 5.661.895 pengguna hak pilih, melebihi angka
partisipasi secara nasional.
Pasangan Anies-Sandi yang mengusung
tagline “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” tentu memiliki tanggung jawab
untuk mewujudkan janji kampanye pasca dinyatakan KPU DKI sebagai
Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.
Di tengah keretakan sosial
akibat persaingan dalam kontestasi pilkada, tugas pertama dan utama
adalah bagaimana merajut kohesi sosial, dengan demikian, kehidupan warga
bisa kembali berjalan normal serta harmonis. Persaingan politik yang
keras dalam Pilkada kemarin, nampaknya menyisakan sejumlah masalah
sosial yang harus di antisipasi sebagai basis pijak menyusun program
kerja untuk memenuhi janji kampanye.
Janji kampanye tak boleh
dianggap sekadar main-main, melainkan mesti menjadi komitmen Anies-Sandi
untuk diwujudnyatakan ketika menjabat. Sebab, janji kampanye bukan
sekadar lipstik untuk meraih dukungan, melainkan sebuah komitmen untuk
mewujudkan harapan warga. Janji kampanye harus dipahami sebagai sebuah
kontrak politik antara kandidat dengan warga yang menitipkan aspirasi
yang diterjemahkan dalam bentuk program kerja ketika mengemban amanah
sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.
Membangun kota metropolitan
Jakarta memang dipastikan bakal menjumpai aneka kerumitan dan beragam
tantangan yang tak mudah. Sebagai Ibukota, Jakarta adalah kota yang
memiliki 1001 kepentingan. Bukan hanya kepentingan publik yang justru
seringkali diabaikan, melainkan pula kepentingan para pemodal besar,
elit politik nasional, dan kelompok pemburu rente lainnya.
Saturday, May 13, 2017
Kelas Menengah
Sekitar lima tahun lalu, seraya menyusuri perjalanan pulang, saya bersama Bang Faisal Basri sempat diskusi mengenai fenomena lonjakan kelas menengah di Indonesia. Karena dia nyetir dan agak ngantuk maka minta saya untuk terus ajak ngobrol agar menghilangkan rasa kantuk.
Nah, meski lelah dan ngantuk, untuk membuka perdebatan saya lemparkan pertanyaan yg agak berat. Pertanyaannya, mengapa jumlah kelas menengah yg besar tak berkorelasi positif dengan kesadaran politik?.
Dari situ dia menjelaskan bahwa kelas menengah itu ada 2 macam, yakni kelas menengah yang hanya dilihat dari tingkat pendapatan saja, dan kelas menengah yang memiliki kesadaran ideologis. Dalam bahasa dia, kelas menengah ideologis ini disebut sebagai strata menengah karena bukan hanya memikirkan survival, melainkan juga perubahan.
Jadi, tak bisa gebyah-uyah atau pukul rata. Jangan berharap kelas menengah mesti memiliki visi perubahan, karena acapkali hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan kadang hanya menyisakan onggokan kebisingan
:)
Selanjutnya, saya pun terlelap hingga tiba sampai tujuan.
:)
SUMBER: Status Facebook 13 Mei 2017
Sunday, April 23, 2017
Anomali Biaya Kampanye Ahok Putaran Kedua
Jika kita lihat hasil perolehan suara paslon Ahok-Djarot pada putaran kedua terdapat sesuatu yang bisa dikatakan anomali. Dikatakan anomali karena, mereka mengeluarkan biaya kampanye sebesar 31,7 milyar, tapi justru perolehan suaranya merosot sebanyak 13.139 suara di banding putaran pertama.
Artinya, biaya kampanye sebesar itu hanya muspro, bahkan kontraproduktif karena justru mengurangi jumlah pendukung yang jika dikonversi per suara menguras biaya kisaran 2,4 juta rupiah.
Tujuan kampanye adalah untuk meraih dukungan, bukan mengempeskan dukungan. Seharusnya kampanye dengan logistik yang tak sedikit dapat menambah dukungan, bukan malah mengempeskan dukungan. Ada banyak kemungkinan yg menjadi penyebab misalnya, alokasi dana tidak tepat sasaran, mesin politik mandeg karena logistik bocor diperjalanan, dan atau terlalu mahal membayar para buzzer yang tak henti membangun framing politik serta secara bersamaaan melakukan delegitimasi lawan.
Ini jelas anomali yang menarik untuk dicermati, terutama para donatur yang telah mengucurkan dana, termasuk intelektual politik. Kenapa logistik cair tapi justru menggerus dukungan? Alih-alih mempertahankan perolehan suara putaran pertama, tapi justru malah mengurangi dukungan. Atau, jangan-jangan malah banyak tim sukses yang 'sukses' meski jagoannya keok.

















